2/5/10

Dilema Studi

Pagi ini saya terbangun dengan kualitas tidur yang cukup baik. Agaknya saya mulai bisa membiasakan untuk hidup lebih sehat dari biasanya. Contohnya, saya tidur tidak lagi larut dan saya bangun tidak juga terlalu dini, semuanya pas. Ketergantungan saya terhadap cokelat pun agaknya berkurang, dan saya memiliki hobi baru yaitu, menggerakan seluruh tubuh saya (baca : joget - joget) sekitar setengah jam sehari, dan efeknya sudah saya rasakan, saya merasa sedikit fit. Musim dingin tahun ini memang lebih dingin selama 20 tahun terakhir, saya bayangkan, saat Summer saja, saya tidak memiliki sedikitpun keinginan untuk berolah-raga di luar, apalagi di suhu minus seperti sekarang ini. Beruntunglah sekarang ini saya, setidaknya merasa fit.
Omong - omong soal perkembangan hidup, pada akhirnya saya telah memutuskan untuk berkuliah di Jerman saja. Dengan dukungan penuh dari orang tua, keluarga, dan juga pacar, membuat saya makin mantap untuk benar - benar meneguhkan tekad untuk berkuliah disini, yang artinya, saya harus rela melepaskan 6 semester yang telah saya lalui di Sastra Jerman Unpad. Yang tadinya umur menjadi masalah besar, dalam mengorbankan kuliah saya di Indonesia demi mendapatkan status mahasiswa di Jerman, sekarang sudah tidak lagi menjadi masalah selama orang tua saya mendukung secara penuh. Saya berencana untuk menetapkan keinginan saya untuk berkuliah di salah satu universitas Jerman dengan jurusan desain komunikasi visual, mengingat minat saya selalu ada pada seni. Saya selalu tertarik dengan pekerjaan yang berhubungan dengan desain baik itu grafis maupun desain natural yang pada intinya adalah berkaitan dengan estetika dari seni itu sendiri. Saya tahu benar, keputusan besar yang saya ambil ini benar - benar harus saya pikirkan matang - matang, tidak hanya saya harus memikirkan umur saya yang pada saat ini sudah 21 tahun, dan kalau dihitung2 saya akan berumur 22 tahun saat saya memulai semester pertama perkuliahan di Jerman ini. Belum lagi, apa yang saya pelajari akan menjadi pekerjaan ganda, belajar bahasa Jerman itu sendiri dan belum lagi benar - benar harus mendalami materi kuliah desain yang kita tahu tidaklah mudah. Ditambah lagi, saya harus berpikir benar - benar bahwa saya akan menginjakkan kaki saya di fase hidup selanjutnya yaitu kemandirian, pada arti kata sebenarnya. Saya harus mulai berpikir, saya akan hidup benar - benar sendirian di negara yang jelas bukan tanah air saya, dan saya sadar bahwa setiap harinya saya akan harus berpikir akan makan apa saya hari ini, akan saya habiskan untuk apa uang saya ini, kapan saya akan pergi ke laundry untuk mencuci baju saya, kapan saya harus memperpanjang visa saya dan mengurus semua dokumen - dokumen juga surat - surat penting yang akan menjadi hal yang paling krusial dalam perjalanan kemandirian saya di Jerman, belum lagi rasa homesick yang mungkin tak tertahankan.
Semuanya sudah saya perhitungkan secara jelas, pengorbanan sebesar ini yang akan saya lakukan untuk sesuatu yang saya sudah tahu sejak sekarang, pastinya akan jauh lebih hebat dan besar daripada apa yang saya korbankan.
Oleh karena itu, mengapa tidak saya coba? This shot is really worth to try, I should give my self a shot. Hanya itu yang saya pikirkan.
Ibu saya adalah pribadi yang mengedepankan urusan akademis, dan saya yakin orang tua mana pun pasti masih berparadigma, lulus kuliah di perguruan tinggi negeri, dengan IPK 3, sekian dan lulus di minimal tahun ke-4 perkuliahan. Saya kenal betul paradigma yang tertanam betul di benak para orang tua di Indonesia. Ibu saya mungkin pernah jadi salah satunya. Tetapi, semenjak saya mengutarakan niat saya untuk melepas putuskan kuliah saya di Unpad, beliau begitu mendukung, begitu menerima secara ikhlas. Beliau berniat akan mendukung secara moril dan materil, dimana di titik ini sebenarnya saya telah mendapatkan point balik, yaitu, ah ternyata memang sudah pada saat nya saya mentas, dalam artian sudah saatnya saya berusaha mandiri, dari segi moril maupun materil. Secara tidak sadar saya telah memikirkan secara matang, bagai mana saya akan membiayai hidup saya di Jerman nanti, yang saya hitung - hitung dan bandingkan bisa 7 kali lipat biaya hidup saya (yang notabenenya, enak dan nyaman sekali) di Indonesia. Perbandingan yang sangat jomplang ini membuat saya kembali berpikir, bahwa ini semua kemauan saya, niat dan ide yang lompat dari batok kepala sendiri. Saya tidak pernah merasa dianjurkan bahkan dipaksa untuk berusaha tetap bersekolah di Jerman oleh orang tua saya, dan ini yang menjadi alasan besar saya untuk berusaha hidup mandiri dalam arti kata yang sebenarnya.
Saya berteman dengan banyak mahasiswa Indonesia yang berdomisili di Frankfurt, Jerman. Kebanyakan dari mereka telah berhasil membiayai keperluan hidupnya secara total atau beberapa pun masih ada yang mengandalkan kiriman dari Indonesia, memang kelihatannya mudah, tapi aslinya, saya tahu sangatlah tidak mudah bagi mereka untuk membagi antara waktu kerja dan kuliah, yang dua - duanya tidak bisa di kompromi. Dua - duanya memiliki unsur penting dalam memegang peranan dalam melanjutkan kehidupan di Jerman, tanpa kerja, mau makan apa minggu ini, tapi tanpa kuliah, mau jadi apa saya di beberapa tahun kedepan, dan bukankah itu tujuan utama kita untuk stay di negara serba maju ini?
Saya sempat merasa berkecil hati dalam hal ini, saya jelas tidak percaya diri. Kehidupan saya selama berstatus mahasiswa di Indonesia, jelaslah enak, enak dalam arti kata sebenarnya. Mau makan di resto mana saja setiap minggu, tinggal cek transferan dari Ayah saya, mau pergi kemana saja, bensin mobil kesayangan saya sudah terisi full, fasilitas yang lengkap tersedia di rumah saya, mau pakai blackberry service, Ibu saya sudah siap sedia meng-handle segala tagihan telepon selular saya, bahkan saya bisa membagi waktu saya dengan membuka butik sendiri. Mau main dengan teman, tidak banyak pikir apa - apa. Ya tinggal main saja.
Sedangkan kalau saya berani mengambil keputusan untuk tetap tinggal disini, saya akan melepaskan segala atribut daddy's little girl yang selama ini saya sandang. Saya harus siapkan mental saya untuk berhenti melirik fashion store yang bertebaran di seluruh penjuru kota Frankfurt, dan harus rela menyimpan sebagian besar uang saya untuk biaya hidup saya, untuk sewa apartemen, untuk makan, dan untuk biaya perkuliahan. Saya harus rela membayar setiapp semesternya sekitar 200-300 euro untuk biaya transportasi publik yang akan saya pakai selama saya berkuliah, yang kalau dibandingkan dengan penggunaan mobil pribadi saya di Indonesia, bisa dibilang memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Disini betapa saya sadar, betapa saya menyia-nyiakan banyak waktu yang saya punya selagi saya di Indonesia dulu, dan betapa orang tua saya memanjakan saya dengan fasilitas yang mereka miliki.
Saya kembali berkecil hati, apakah saya sanggup dan percaya diri dengan apa yang akan saya lalui selanjutnya? Belum lagi, tanggung jawab besar terhadap studi yang akan saya pikul pada nantinya.
Saya hanya tidak yakin, untuk apa ini semua saya raih, yang pada prakteknya, adalah berusaha pada nantinya untuk mendapatkan kehidupan yang hanya jauh dari sekedar layak, dengan pekerjaan dan karir yang memuncak, karena saya akan dikenal sebagai lulusan Jerman, yang harusnya memenuhi kualifikasi dalam persaingan lapangan kerja internasional. Dan juga tentunya, membanggakan orang tua saya.
Saya masih dalam proses berpikir dan terus mengusahakan agar semua ini bisa berjalan dengan baik dan tepat pada waktunya. Karena saya pikir, bukan hanya kualitas studi yang jauh jauh jauh lebih baik yang akan saya dapat, tapi tantangan untuk mengalahkan diri sendiri, egoisme sesaat dan latihan dalam membanting diri sendiri untuk berani mengambil langkah dalam proses kemandirian dalam hidup saya. Saya yakin usaha ini sudah sepatutnya saya coba. Saya yakin ini memang saatnya saya untuk mentas dan segera keluar dari comfort zone yang saya sandang dulunya sebagai daddy's little girl. Saya yakin semua usaha dan pengorbanan yang saya lakukan ini sebanding dengan usaha saya mematahkan paradigma kebanyakan orang Indonesia yang terus - terusan mengejar kelulusan sarjana sebelum berumur 25 tahun. Saya jelas yakin apa yang akan saya dapatkan akan jauh jauh jauh lebih besar daripada apa yang terlihat.
Mungkin akan sedikit mengiris hati saya, saat saya melihat ketiga teman baik saya sejak kecil, telah menamatkan kuliahnya, dan harus melihat mereka memakai toga dan kebaya dengan cantik di hari wisuda mereka. Memang akan sedikit miris, disaat saya harus memluai kembali studi (baru) saya, dan mereka telah bisa membuat orang tuanya berlinang air mata pada hari kelulusan mereka. Yang tidak akan saya lupa betapa Ibu saya terharu dan menangis cantik saat wisuda kakak saya, yang notabenenya, adalah lulusan cum laude Fakultas Kedokteran Gigi Unpad, di umur yang begitu muda. Pertanyaan yang akan mengusik saya, kapan Ibu saya akan menangis secara haru lagi, apa harus beliau menunggu another 5 years towards untuk menunggu kelulusan saya, yang masih jauh sekali dari pandangan mata.
Saya tahu resikonya, dan saya siap dengannya. Saya tahu mungkin disaat saya berumur 27 tahun nanti, saya yakin kredibilitas dan kemampuan saya sebagai bachelor desain komunikasi visual (amin) nanti, tidak akan diragukan, saya yakin saya bisa bertanding dengan individu - individu yang berumur 3-4 tahun lebih muda dari saya. Saya yakin kredibilitas dan ability saya tidak akan terpatahkan hanya karena umur.

....in a need of big big big support from all of you guys, to actually choose which way i should take, i hope that God wouldn't put any jokes on this part of my life.....


5 comments:

ajangajeng said...

ga semua orang berani ngmbil keputusan kaya gini na. dan lo berani. life is about taking risk, dan kita cuma live life once. gw cuma bisa bilang :
make the most of it. make the most of yer life.
cos it doesnt really matter where you live, what you do, kuliah apa elo, apakah lo sekarang sedang membuang waktu lo dg mengambil keputusan itu. karna lo tau? screw with that.

lo sedang mengambil keputusan atas hidup lo sendiri.
lo mengamini bahwa hidup harus diberi makna.
lo menyadari bahwa elo adalah org yg paling bisa 'mengisi' hidup lo sendiri.
dengan makna2 yg ingin lo coret di kertas hidup lo.

ga usah khawatir, krn semua ini sudah ada jalannya. udah ada garisnya.

lakukan, lakukan saja.
jalani dg sebaiknya.


u know i love you.

Yasti said...

Salut,Na!
Akhirnya lo menentukan jalan hidup lo sendiri,dan musti banyak bersyukur karena lo di dukung orang2 terkasih.
Good luck ya!

Arika said...

@ajangajeng : gue tau bener lo pasti ngomong kayak gini, in some many ways, gw sebenernya ga perlu nanya lagi pendapat orang ttg ini dan gw uda tau jawabannya, dan lo kenal betul gw, dan gw ga ngerti knp kita bs bonding banget kayak gini, dan jujur ya pendapat lo itu salah satu yang gw pertimbangkan benar2 bwt hal2 yang menyangkut dalam memutuskan sesuatu, idk kita hangout bareng jg jarang.
tp lo bener2 mengerti gw secara bener.
thanks banget neng.
you know i love you too.

@yasti : danke danke, masih rencana kok, mudah2an smuanya schaffen di saat yang tepat dlm keadaan yang sesuai :)
good luck to you too!

bobocalling said...

Dukungan itu bentuk lain dari kepercayaan. Semoga lo bisa memegang teguh itu. Waktu emang terus berjalan, na. tapi kita hanya akan berhenti belajar kalau liang lahat sudah ditimbun tanah merah. Kumpulkan semangat, ingat selalu sama mereka yang sayang sama lo, berdoa, usaha. niscaya Tuhan pun memberi restu.

Viel Erfolg,nana...

Arika said...

makasih banyak aisya meindanda! love love love your words..

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com