1/30/10

Obrol - Obrol Singkat Fashion

Sengaja saya post hasil penderitaan (baca : dengan outfit minim, dan harus rela mengeset self timer dari kamera slr sendiri, dengan lokasi outdoor. oh ya dengan suhu maksimal minus 6 derajat, badai salju lebat, dan angin kencang menusuk langsung ke kulitnya ) kemarin, dengan versi asli-nya. Foto sesi ini dilakukan benar - benar sendirian, mulai dari set kamera, pemilihan outfit, make up, dan pemilihan lokasi. Berbicara tentang cita - cita dan passion hidup, boleh dibilang saya sudah menemukan secara nyata, mau ditaruh dimana saya ini pada akhirnya. Saya cinta fashion, dan kalau boleh mengulang fase hidup, saya akan belajar fotografi secara serius. Dengan maksud di umur saya yang 21 tahun ini, saya sudah bisa dengan percaya diri menyebut diri saya capable dalam urusan jepret menjepret.

Self-Photo-Session at Home, Heidelberg, end of January 2010
(no edit)

Musim dingin ini memang musim dingin pertama saya, semenjak saya hidup di negara 4 musim. Jerman, yang begitu rapi dan tertata. Kalau boleh jujur, saya jarang sekali merasakan apa itu homesick, atau ketidak-betahan atau kesulitan dalam proses adaptasi dengan lingkungan baru. Jerman melalui kacamata fashion saya, merupakan negara multikulturel yang setiap individu pengguna fashion itu sendiri bisa dengan bebas mengekspresikan gaya dan ciri khas-nya.

Self-Photo-Session at Home, Heidelberg, end of January 2010
(no edit)

Perbedaan besar yang cukup ketara, saya temukan antara dua kota besar Jerman dengan kepadatan penduduknya dan pergerakan fashion yang terdapat di kota itu sendiri; antara Frankfurt dengan Berlin. Di negara serba bebas berekspresi ini, terkadang masih saya temukan penyamarataan taste dari gaya masyarakat kota tersebut. Di Indonesia, seringkali kita temui keseragaman pilihan gaya anak - anak muda. Contoh, kalau sedang musim, black leather bike jackets, atau ankle boots, indian boots, etc. Pengguna fashion di jenjang umur yang hampir sama, pastinya memakai barang - barang yang sekiranya sedang in pada saat itu. Normal, kalau kata saya, pengaruh iklan, media dan penghasil produk itu sendiri sangat besar efeknya terhadap perilaku konsumtif anak muda, terutama di Indonesia.

Frankfurt Main Station, October 2009
(no edit)

Frankfurt pada contohnya, agak monoton dalam taste pemilihan winter style. Trench coat hitam, mantel musim dingin, bisa terlihat dan tersebar dimana - mana. Dibanding Berlin, Frankfurt, agak lebih membosankan kalau saya boleh menilai. Berlin, kota besar dengan sekian penduduknya, merupakan kota fashion besar di Jerman. Sekali saya jalan - jalan disana, yang saya lihat banyak sekali macam, dan pemilihan gaya untuk winter style. Lebih beragam, lebih berwarna, dan lebih menarik. Saya sendiri juga tidak banyak memilih gaya yang aneh - aneh atau membiarkan diri saya berkreasi ekstrem sesuai imajinasi saya dalam hal memilih baju apa yang saya pakai. Sementara ini saya hanya cukup berkreasi dengan keterbatasan winter stuffs yang saya punya. Selain itu, hati saya memang terikat kuat dengan summer, dimana saya jelas bisa lebih banyak berekspresi dan berkreasi dengan apa yang bisa saya pakai.

Brandenburger Tor, Berlin, January 2010
(no edit)
Self-Photo-Session at Home, Heidelberg, end of January 2010
(no edit)

anyway, I'm using Canon EOS500D, and it was pretty good, pretty easy to do with those self timer option.

6 comments:

intanwiththethings said...

nice posting and picture,,, Fotogenik ya ^_^

Arika said...

iyah fotogenic. aslinya biasa2 aja heheehe makasi anyway :D

bunga istyani said...

agree :D berlin cant ever be compared with any other city :)

Arika said...

tapi kalo masalah iklim, scheisses wetter!!!

bunga istyani said...

try Summer in Berlin ! serius gue nih ... asiiik naa, ajak cowo lo ke wannsee, sana gih pake bikini bikini heuheue :D

Arika said...

pastiii dong :D hahahah

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com