1/21/10

Apa yang Saya Sebut Dengan Cara dan Ciri Khas

Jiwa saya saat ini sedang bergumul keras, berkelahi dengan kenyataan. Semakin kita diberi kesempatan dan waktu untuk berpikir, semakin banyak hal yang tampak tadinya tidak bermasalah, menjadi beberapa anak cabang permasalahan yang jelas menyita waktu. Saya pada dasarnya adalah pribadi yang tidak peduli lingkungan alias cuek, tapi seiring berjalannya waktu, yang walaupun belum banyak saya alami, belum sebanding, kalau masih dibanding - bandingkan, yah pengalaman hidup saya ini masih sangat sedikit. Di waktu ini, saya sedang bergumul atau bergulat lebih tepatnya dengan keagamaan dan hubungan ketuhanan saya. Saya jelas beragama. Tapi mengutip dari Ayu Utami, yang berpendapat atau lebih bisa dibilang bertanya - tanya, apakah sebenarnya kita ini beragama secara matrilineal? Atau?
Pernah seingat saya, sekitar 3 tahun yang lalu, saat saya mulai hidup sendiri (baca : ngekos) saya memiliki banyak waktu luang yang jelas saya pakai untuk membaca buku. Sayangnya satu kitab yang belum pernah saya sentuh secara harfiah, sampai saat ini adalah kitab agama saya. Saya bisa dibilang tidak tahu apa - apa pun, mungkin secuilpun tentang agama yang saya peluk. Oke, secara historikal, boleh lah saya selama 12 tahun tak berhentinya masuk di kelas pelajaran agama, dan bukannya sedikit yang saya dapat dari sana, hanya selalu kurang dan kurang. Kembali lagi, disaat saya punya banyak waktu luang, saya sering membiarkan otak saya ini berpikir sedikit liar, bukannya jorok lho. Sempat tersirat pertanyaan kecil di batin saya yang sampai saat ini masih melekat di benak saya. Apa saya ini beragama karena kultur? Apa proses kulturisasi yang membuat saya beragama? Bagaimana saya bisa beragama, apa karena Ibu saya, Ayah saya beragama, jadi saya pun mau tidak mau harus begitu.
Teman saya bilang, kalau tidak ada agama, mau jadi apa dunia ini? Banyak orang yang tidak bisa mengenal jelas mana yang bisa dibilang baik mana yang dibilang buruk. Tapi makin menjadilah keliaran pikiran saya, sekarang siapa yang berhak menentukan baik - buruknya tindak - tanduk seseorang. Apa bisa saya tarik benang merah, bahwa agama telah berhasil menyeragamkan dunia? Tidak. Bukannya saya tidak bersenang hati bahwa saya ini beragama. Jelas saya bersyukur, kalau tidak... sekali lagi, mau jadi apa saya. Saya beragama pun terkadang lepas dari aturan yang semestinya berlaku. Apalagi kalau saya tidak memeluk satupun dari mereka. Tapi jelas, saya ini kritisil. Saya selalu banyak mengkomplainkan semuanya yang saya punya. Pada contohnya, yang bahas saat ini adalah, agama. Saya masih menyayangkan agama yang saya peluk sendiri pun masih ditemukan banyak perbedaan, baik dari cara pandang terhadap agama itu sendiri maupun dari cara pribadi masing - masing atau bisa disebut aliran - aliran ini berkomunikasi dengan Tuhan. Sungguh membingungkan, sungguh membuat saya kembali bertanya - tanya. Kalau memang kita memiliki cara masing - masing untuk berkomunikasi dengan Tuhan, lalu mengapa kita sepertinya diharuskan berpelukan pada satu agama, yang kita sendiri tahu bahwa kita jelas belum bisa menjalankannya secara sempurna.
Sebenarnya, apa yang saya bahas disini, bisa jadi, atau malah kemungkinan besarnya, karena saya baru mengenali kultur baru, yang membiarkan saya semakin liar berpikir. Tapi saya tidak benar - benar pernah menahan otak saya bermain asyik dengan fakta dan hausnya pribadi saya akan buku - buku dengan isu keagamaan. Saya membiarkan diri saya larut dalam hal ini, tapi satu yang saya tetap pegang adalah, terlalu banyak keajaiban Tuhan, Tuhan di agama saya pada jelasnya, satu Tuhan saya, yang saya percaya benar adanya, bahwa Tuhan itu ada, dan sejauh ini, agama yang saya peluk belum pernah benar - benar membuat saya berpikir untuk mendalami agama lain. Saya tertarik jelas untuk tahu segala sisi dari agama selain yang saya peluk, jelas secara historikal, maupun secara pengalaman keagamaan dari pribadi yang memeluk nya masing - masing. Jelas ini topik yang selalu menarik untuk dibahas, dan dikejar kebenarannya. Tapi saat saya sadar, bahwa saya ini begitu mengkomplainkan mengapa agama begini, begitu, dan selanjutnya. Saya sendiri sadar, bahwa sekalipun, sekalipun, saya belum pernah membaca kitab saya, dan mendalaminya secara harfiah.
Oleh karena itu, saya simpan segala keragu - raguan yang saya punya, dan terus tetap percaya apa yang Tuhan berikan pada saya semenjak saya keluar dari rahim Ibu saya, adalah selalu baik, dan selalu sempurna. Saya memang memiliki cara khusus berkomunikasi dengan-Nya, dan saya jelas tidak menginginkan ada jugdementasi apa - apa dari pihak manapun.
Satu hal positif yang bisa saya berikan di tulisan saya kali ini adalah, marilah kita bersama - sama saling menghormati cara masing - masing pribadi dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Bukannya malah memberikan penilaian atas apa yang mereka lakukan. Saya sangat menghormati betapa manusia - manusia informir ini yang berdiri dan membangun institusi - institusi kecil di dalam badan agama, yang selalu saya kenal sebagai wadah dari institusi - institusi kecil itu sendiri. Saya selalu berkeyakinan bahwa agama bisa membawa sesuatu yang lebih besar dari sekedar menyamaratakan proses peribadahan penggunanya itu sendiri. Saya menggunakan agama lebih sebagai pegangan, agar tetap berkehendak, dalam mempercayai keyakinan saya terhadan Tuhan itu sendiri. Saya memiliki cara berkomunikasi yang spesial atau khusus dengan Tuhan, dan saya tidak mau diusik karenanya, baik melewati keluarga saya sendiri atau pun yang bisa saya katakan, mahkluk - mahkluk kecil yang sekarang merasa berhak dalam mengharamkan sesuatu, yang mungkin dalam koneksi sebab-akibatnya agak kurang bisa diterima dengan akal sehat.
Selalu ada yang jaugh lebih besar dari sekedar percakapan dan perdebatan, dalam mengurusi apa yang tampak. Negara saya, memiliki semilyar - milyar permasalahan sosial. Yang saya sayangkan, mengapa selalu apa yang tampak saja yang dipermasalahkan.
Saya simpulkan, bahwa alangkah baiknya jika dari pribadi masing - masing yang dimulai dari diri kita sendiri, marilah mengenali, mengamati, dan menghargai cara masing - masing individu dalam mengkomunikasikan dirinya baik dalam hubungan ketuhanan, maupun kemanusiaan dan hubungan sosial disekitarnya.
Saya jelas mengagungkan keberadaan Tuhan, dan saya tidak mau sedikitpun terusik oleh keharusan yang dibuat - buat oleh mahkluk yang setara dengan saya, dalam cara saya menjalani hidup dan kenyataan dalam mengkomunikasikan diri saya dengan Tuhan.

1 comments:

Astar's Place said...

Seek the truth and you will find it :-)

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com