12/2/09

Physicological Changement ?

Saya memiliki masalah besar dengan pendekatan awal saat sosialisasi dengan orang - orang baru, dan tempat yang baru. Dari kecil, saya memang tidak terlalu banyak bicara. Ibu saya kerap bilang saya ini dingin, terlalu cuek dan asyik sendiri. Terkadang Ibu bilang saya supel. Saya punya banyak teman, saya manusia sosial, dan saya tidak suka bersikap apatis. Tapi sedari kecil, saya memang memiliki masalah dengan mendekatkan diri ke orang baru. Saya bisa saja berbicara sampai 100 kata per menit, kalau sudah bisa menemukan kedekatan pada lawan bicara saya. Sayangnya, hal ini seringnya langka terjadi. Seperti contohnya kemarin, saat saya diundang kakak kelas saya ke suatu pesta ulang tahun teman di Frankfurt. Jujur, saya benar - benar mengeluarkan effort untuk mendekatkan diri pada orang - orang baru yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya. Saya berusaha beramah - tamah, sebaik mungkin yang saya bisa. Dan luckily saya bertemu mahasiswa master (S2) yang sedang berkuliah di Universitas Mainz, namanya Vina, dan dia seorang psikolog. Sempat mengobrol dengan beliau sedikit, bertanya, apa yang bisa saya lakukan untuk bisa sedikit berubah menjadi pribadi yang hangat. Ibu psikolog ini bilang, kalau tidak ada yang perlu dirubah dari diri kita sendiri, jangan pernah memaksakan sesuatu yang bukan diri kita, dan dia juga bilang, saya tidak boleh membentuk diri saya, atau istilahnya membangun benteng yang menguatkan pikiran saya kalau saya ini berkepribadian dingin, tidak hangat, dan susah bergaul. Paradigma inilah yang harus saya lepas cepat - cepat dari otak saya. Tetapi sulit.
Vina juga banyak bercerita tentang fakta dari Winter, banyak sekali orang yang depresi, saat winter tiba. Ya, bayangkan saja, hidup selama 4 bulan, hampir tanpa matahari bersinar, dan harus mengenakan baju yang berlapis - lapis, tak berbentuk. Dan tidak bisa mengenakan baju favorit yang kebanyakan kita beli dari negara asal kita, Indonesia, yang pada umumnya, hanya cocok untuk dipakai saat Summer tiba. Saya punya fetish yang kuat dengan fashion, hampir seperti menikah saya dengan hal yang satu ini. Sedikit banyak saya merasa tertekan, karena setiap berpakaian, minimal saya harus pakai 3-4 lapis banyaknya, dan saya pun tidak bisa mengenakan baju favorit yang saya suka, yang pada umumnya adalah, sackdress, hotpants, dan tentu saja flat shoes terbuka, favorit saya.
Selain berkenaan dengan perihal fashion, kedatangan Winter benar - benar membuat saya ketar - ketir. Saya suka matahari, karena saya butuh sedikitnya kehangatan. Begitu saya sampai di Jerman, banyak yang berubah dari diri saya. Saya hampir tidak punya hati, istilahnya begitu. Dengan dasar, perilaku es yang saya punya, begitu sampai di Jerman, saya dituntut hanya untuk berpikir demi kelangsungan hidup dan pendidikan saya disini, dan inilah yang membuat saya tidak bisa membagi waktu untuk sekedar memikirkan perasaan, baik perasaan orang maupun perasaan sendiri. Valentine, teman saya, pernah bilang, kalo lo udah tinggal di Jerman, lo pasti merken kok, kalo entar - entarnya lo bakalan lebih dingin dalam bersikap. Benar terjadi, dalam waktu sedikitnya 2 bulan, saya makin berperilaku seperti es. Saya seperti tidak mau peduli dengan apa yang terjadi di dunia luar yang bukan jangkauan saya, saya seperti hanya ingin berpikir straight up dan tidak muluk - muluk. Kedatangan Winter, makin membuat saya curious, jelas.. saya belum sekalipun lihat salju. Menarik, tapi tetap bikin saya ketar - ketir, saya tidak mau terus - terusan (atau bertambah) menjadi pribadi yang gloomy all the time. Memang saya baru patah hati, tapi seiring berjalannya waktu saya tahu saya akan baik - baik saja, dan saya memang baik - baik saja sih. Tapi permasalahan yang akan banyak bermunculan, adalah pergeseran kepribadian saya, ke arah yang lebih schlimm, mungkin akan ebih dingin, daan lebih malas mengurusi hal - hal lain, atau bahkan makin tidak mau ambil pusing dengan urusan yang melibat saya selama ini. Agaknya ini membuat saya bingung, karena, saya kangen menjadi pribadi hangat yang bisa get along dengan banyak orang.
Walaupun Vina bilang, saya tidak perlu berubah, pada kenyataannya mungkin saya harus berubah. Winter banyak bikin orang meninggal, bukan terpeleset salju, ah atau mungkin saja, tetapi yang paling banyak terjadi adalah bunuh diri. Winter banyak bikin perasaan orang semakin gloomy apalagi, harus rela jarang bertemu matahari, yang notabenenya adalah kehidupan. Vina pun bilang, ada terapinya untuk permasalahan winter depression ini, yaitu terapi sinar matahari. Boleh mungkin dicoba. Atau sebenarnya, terapi yang Vina bilang ini, sepertinya akan saya butuhkan di setiap harinya Winter. Caranya, gampang. Kita hanya diperlkan keluar dan diam dibawah sinar matahari, sambil merelaksasikan syaraf - syaraf yang sekiranya tegang dan menyebabkan sedikitnya depresi di dalam pikiran maupun hati.
Mungkin akan saya coba, na ja... saya sedikitnya memang harus merubah pribadi saya yang kelewatan dingin dan cuek ini. Mantan pacar saya beratus kali protes, karena saya terlalu cuek, disaat mungkin, ia butuh perhatian dari saya, na ja... memang harus ada yang dirubah dari kepribadian saya, tidak ada salahnya menjadi pribadi lebih hangat dan lebih peduli kepada orang lain.
-----
 

Template by BloggerCandy.com