11/26/09

Pesimis

Saat ini mungkin saya sedang berada di titik kemalasan yang lumayan dahsyat yang pernah saya rasakan. Saya ini sedang dalam keadaan terjepit. Ya benar, saya benar - benar dituntut agar bisa memenuhi kualifikasi, atas standar yang saya bangun sendiri. Terserang penyakit malas memang tidak bisa terhindarkan, mungkin bagi siapa saja. Saya jelas punya passion kuat, dalam fashion, menulis, dan bermain piano. Saya juga sangat berhasrat besar dalam mendalami berbagai macam bahasa.

Di waktu ini, saya tengah berada di Jerman, Eropa. Jauh dari keluarga, jauh dari para sahabat, benar - benar menuntut saya agar tetap berada di garis lurus, dan tidak limbung. Saya benar - benar menjaga semuanya, seperti contohnya waktu dan uang, yang banyak sekali terbuang akibat perilaku kekanak - kanakan saya sewaktu saya masih di tanah air. Saya tidak bilang saya ini pribadi dewasa. Tapi terlalu banyak kasus, dari dunia perkuliahan sampai dunia pertemanan atau bahkan percinta - cintaan. Banyak kasus yang belum diketuk jelas oleh si bapak hakim. Banyak yang menggantung, entah mau dibawa kemana, atau terarak angin ke arah yang mana. Belum jelas. Begitu banyak hal yang harus saya capai, sedangkan, sekali lagi, saya berada di titik paling malas yang mungkin saya rasakan sekarang ini. Efek dominonya hebat deh. Teman - teman saya kerap mengeluhkan sakit rumah lah, kangen pacar lah. Sedangkan saya? Saya kangen dong sepatutnya, tapi saya sangat menghindari, ini yang mungkin bisa dibilang mengeluh. Kembali lagi ke efek domino dari serangan malas yang saya terima akhir - akhir ini. Mungkin pula karena harus juga menyesuaikan diri dengan iklim negara Jerman yang setiap harinya membuat saya mengumpat “FU**” sepanjang jalan, saat angin menerpa muka, salah, bukan menerpa, tepatnya menusuk sampai ke tulang - tulang. Saya memang malas bergerak, untung saya tidak bakat obesitas. Saya malah punya berat badan dibawah batas normal yang seharusnya.

Permasalahan paling krusial, dan isu yang paling menempel di benak saya sejak saya memulai hidup saya yang baru di negara Hitler ini adalah adaptasi. Terus - terusan beradaptasi. Saya beradaptasi dengan baik dalam semua hal, kecuali iklim. Saya sering sekali jatuh sakit, entah mungkin pada dasarnya saya lemah fisik, bahkan lemah batin. Tapi toh saya berhasil melewati fase ini. Menyesuaikan diri dengan lainnya.

Masalah yang menempeli terus di pundak saya ini semakin menjadi - jadi, dan anehnya disaat saya dituntut untuk benar - benar total dalam menjalani hari - hari saya sebagai mahasiswa perantauan, yang jelas saja punya tujuan jelas, kenapa bisa sampai disini. Saya dituntut pada bulan April untuk mengikuti ujian besar bahasa Jerman yang ahh, saya selalu mules kalau membayangkan ujian itu, memang belum di depan mata, tapi, waktu yang sekarang berjalan begitu cepatnya ini, saya yakin, kalau saya kecolongan sedikit saja, goal itu tidak akan pernah teraih oleh saya. Saya tidak pernah menganggap apa yang sedang saya kerjakan disini adalah beban, ini pilihan. Saya telah memilih hidup sendirian, jauh dari orang - orang yang paling saya cintai seumur hidup saya, dan harus membiasakan diri makan makanan tanpa garam (saya sebut seperti itu saking hambarnya). Bahkan bisa dibilang lidah saya bisa jadi rusak, tidak bisa lagi makan rendang super pedas atau sok - sokan makan sambal Bebek Van Java di Bandung yang benar - benar tiada tandingannya. Kangen? Jelas lah. Walaupun banyak yang bilang saya ini berpribadi terlalu dingin, cuek dan tidak cengeng seperti kebanyakan, saya toh bisa merasakan yang namanya kangen sama orang, dan masakan. Begitu banyak alasan yang mengakibatkan si penyakit ini hinggap di pundak saya, begitu kurangnya dukungan, dan begitu sedikitnya waktu untuk sekedar sharing sama teman - teman terdekat, makin membuat penyakit ini semakin menjadi - jadi. Heran. Disaat tuntutan tinggi merong - rong saya agar lebih bisa menggenjot semangat belajar, malahan terserang penyakit sialan ini.

Passion saya salah satunya adalah juga pendidikan. Walaupun bisa saya bilang jelas prestasi pendidikan saya terakhir di Unpad tidak begitu cemerlang, tetapi tetap saja, saya benar - benar berhasrat mengejar produk Tuhan yang satu ini. Saya mungkin bukan pribadi kuat sepenuhnya, tapi bisa dengan bangga saya bilang, kalau saya lumayan tahan banting. Saya bahkan hanya menangis 2 kali, ketika saya terserang penyakit kangen rumah, dan apa yang bisa saya tarik garis benang bangga dari sini adalah; pada awalnya banyak sekali pihak yang meragukan daya tahan saya untuk bisa bertahan disini, dibilang anak manja, yang diberi fasilitas serba lengkap dari orang tua, mereka pikir saya tidak akan tahan bila harus bekerja sambil sekolah. Toh pada kenyataannya saya berhasil. Dengan bantuan Tuhan tentunya. Mengeluh adalah hal yang paling sering saya lakukan, banyak hal yang saya komplainkan ke Tuhan beberapa saat yang lalu, saya cukup menyesal karenanya. Saya beragama, tapi saya mungkin punya cara lain untuk beribadah, saya mungkin tidak rajin shalat, bahkan belum lancar baca Al-Quran. Saya memiliki cara tersendiri untuk berkomunikasi dengan Tuhan saya. Mengeluh salah satunya. Saya banyak sekali mengeluh pada Tuhan. Tentang apa saja. Apapun yang mengusik perasaan saya, saya keluhkan pada Tuhan, jeleknya sih, saya mestinya tidak harus komplain.

Perasaan malas yang menyerang saya belakangan ini juga saya komplainkan pada Tuhan. Saya bertanya sih sebenarnya, bagaimana cara menghilangkan penyakit ini. Di menit lain, saya bisa dengan sukses melupakan sejenak masalah cinta - cintaan saya, perkara patah hati saya, sedih - sedihan saya beberapa saat yang lalu. Saya bisa bilang, bahwa saya memang bukan pribadi perempuan yang umum. Terlalu banyak hal yang saya urus dengan menggunakan otak instead hati. Padahal penelitian membukitikan, bahwa wanita, pada umumnya mengandalkan perasaannya untuk menyelesaikan masalah. Ini kelemahan saya, andai saya punya banyak dari kemampuan para wanita pada umumnya, saya yakin, saya akan terhindar dari banyak permasalahan (khususnya cinta - cintaan) yang terus - terusan melanda saya. Saya selalu berpikir logis, dan ini lah yang saya bilang, disaat saya ini hampir kehilangan perasaan, saya jahat pada orang lain. Apa yang menurut saya logis, apa yang otak saya presentasikan, itu yang benar. Tidak menghiraukan perasaan. Begitu pula hal ini, saya komplainkan pada Tuhan saya.

Disaat teman baik saya, ada yang mendapat keberkahan di waktu yang terlalu dini. Dia punya anak. Saya komplainkan pula itu pada Tuhan. Jelas saya ini manusia yang benar - benar tidak tahu diuntung. Sudah pemalas, tidak pernah bersyukur pula.

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam hidup saya belakangan, banyak sekali yang tidak ingin saya hiraukan. Tapi toh ternyata perasaan saya masih bisa dinyalakan. Saya masih bisa merasa sedih, terkadang kalau ingat baru patah hati. Atau terkadang pula merasa sedikit mellow kalau rindu teman - teman dan keluarga. Atau kadang pula masih bisa berpikir untuk melawan penyakit malas ini dengan melakukan banyak kegiatan positif.

Kesimpulan yang bisa saya gubah dari sini adalah, beruntung saya ini masih manusia. Beruntung, otak saya masih bisa diandalkan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, dan hati saya saat ini ternyata masih bisa dinyalakan.

0 comments:

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com