11/21/09

------

Aku poles kutek merah, menyala. Kakiku bersembunyi hangat di balik selimut tebal khas negara empat musim. Berusaha mencerna apa yang telah terjadi, sambil masih memoles kuku. Aku padamkan rokokku. Ayah, pikirku. Kangen rasanya. Ah baru saja 4 bulan. Belum lama. Sedangkan dia harus sadar betul, bahwa suatu saat akan berpisah, yang selamanya. Ibu, aku panggil redam, rindu aku. Aku akan berhenti merokok, pikirnya. Beliau dokter. Rokok ini hanya akan melukai perasaannya. Dimana disetiap doanya terlantun nyanyian indah, agar aku sehat dan tidak cepat mati. Lucu sajalah. Sambil terus memoles kuku, pikiran ini bermain sedikit liar, tapi tidak berontak. Brutal sedikit. Masih musim gugur, tidak perlu terburu - buru, masih tersedia detik, menit, jam, hari, bulan. Mari bersantai sejenak.
Mungkin saja aku kemarin hampir mati terbunuh rasa bersalahku, dalam, pekat dan sunyi. Kehilangan berat badan, sudah biasa terjadi, di saat ini, yang orang sebut patah hati. Tidak tidur, normal sekali.
Aku bangun malas dari tempat tidur, hari ini akan kencan. Makanya kupoles lagi kutek ini. Beranjak pelan, dengan langkah sedikit riang, karena akan ada kencan. Berkaca, dan merapikan sedikit poni di dahi yang telah panjang menjuntai. Cincin ini masih terlingkar di jari. Belum akan kulepas, kok. Ini kalian, teman - teman baikku. Mungkin, tidak akan kulepas. Mungkin.
Masih sambil berkaca, aku menyapukan pemulas mata, yang disetiap saat, dan akan selalu hitam adanya. Sedikit pelembab bibir, dan siap. Banyak yang bilang aku cantik. Aku tersenyum.
Pikiranku masih bermain liar, berputar - putar sedikit brutal. Memang apa salahnya berkencan?
Aku pakai sepatu hitamku, dengan hak 7 cmnya. Berputar sedikit, dan hampir sempurna. Kucari mantelku yang paling sesuai dengan warna sweater yg kupakai. Hitam.
Sedikit berkaca. Dan lalu aku diam.
Pucat pasi, ini bukan aku! Sungguh, siapakah bayangan itu? Itu bukan aku. Terduduk lemas di sudut kamar, sementara playlist sedang memainkan lagu Happy Ending - Mika, begitu menyayat. Sungguh suasana berubah, pekat kental, dan menyergap. Ini bukan aku. Aku masih terduduk lemas, ini siapa? Ini bukan aku. Tolong siapapun, beritahu, siapa ini? Ini bukan aku! Panik, lemas, ini menyergap! Sungguh tolong tusuk aku, sungguh tembak aku, sungguh bunuh aku saat ini! Siapa aku ini? Beritahu!

Sungguh buang - buang waktu. Sungguh. Betapa Tuhan, membuat semuanya jelas. Sungguh buang - buang waktu hidupku. Aku tidak tahu siapa yang berhak akan jasad ini, siapa yang berhutang akan jasad ini. Sungguh aku tidak tahu. Atau betapa ini semua hanyalah kamuflase semata. Tiba - tiba aku merasa pusing, dan hilang. Warna merah berputar - putar, seperti bianglala. Apa ini? Ah kukuku.
Aku masih tidak tahu siapa ini. Aku pusing.
Sungguh hari ini kelam, sayang aku harus batal kencan.

Kuku ini masih terpoles merah, pekat, darah, dan indah.

0 comments:

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com