11/20/09

........................................................................

Ditulis pada tanggal 3 Juli 2009. Dikembangkan lagi pada hari ini, 20 November 2009.

Hidungku beringus. Mataku merah berair. Semua terlihat kabur, dan aku masih menghisap batang rokok ah, yang kesekian kalinya. Pemutar musik mengalun keras dari sebelah ruangan. Memakan waktu yang ada, membunuh, dan merasuki. Entah berapa gulung tisu telah aku gunakan. Mungkin hampir satu galon kopi tercerna sudah di lambungku. Sungguh kafein dan nikotin. Sungguh kafein dan nikotin. Aku tetap mengetik. Jari - jari ini menari lincah, hati ini menyanyikan sungguh, banyak sekali kalimat - kalimat indah. Ini memang sudah larut, atau sudah pagi? Aku tetap mengetik. Aku flu, bahkan demam. Tapi aku tetap mengetik, aku tahu ini akan indah, semua paradigma yang ada, bergeser ke kiri, ke kanan sesuai alurnya. Aku tahu aku berubah. Dan aku tetap mengetik, dan merokok.
Aku mabuk, untuk kesekian kalinya, aku menyanyi. Ini semua omong kosong. Oh tidak. Aku masih saja hidup. Tuhan tahu ini akan indah, jadi kenapa harus berpikir? Kenapa harus berencana, kalau semua sudah terencana?
Pertanyaan ini semakin menari - nari liar di benakku, semakin tidak terjawab. Semakin kabur, dan semakin indah. Aku ini penulis. Aku ini penari. Aku penyanyi. Aku pemabuk.
Kenapa harus berencana? Semuanya sudah tertulis jelas disana. Aku tidak akan berencana lagi. Aku akan terus melukis. Hei, aku menulis!
Jauh semakin jauh, apa yang ada, apa yang telah diciptakan telah hilang, hilang seiring berubahnya pola pikir manusia, oh apa itu manusia? Semua yang ada telah hilang. Dan kenapa baru sadar sekarang? Setidaknya setelah batang ke berapa rokok ini terbakar, setidaknya ketika paru - paruku akan segera bertransformasi menjadi batu bara. Kenapa harus sadar sekarang ketika berpuluh - puluh gelas kopi, dan segala racun yang ada di dalamnya mengalir dalam darahku? Kenapa harus mabuk? Hei, aku sadar, dan aku menulis, aku tetap menari, menyanyi, melukis.
Pertanyaan indah ini terus mengalun dalam benak.
Kenapa harus berencana lagi, sedangkan semuanya telah terencana?
Aku jatuh, dari tarian indahku. Balet? bukan. Pendet? bukan. Tango? bukan. Aku terus menari, walaupun terjatuh sudah. Semua pesan sudah terkirim, tersampaikan secara jelas. Aku berhenti menari, aku kembali menulis. Semua ini bukan omong kosong. Tuhan tahu itu, ya jelas lah.
Aku berhenti sejenak, suara serak ini melantunkan lagu. "Hei Tuhan, bocorkanlah sedikit rencana-Mu itu." Aku akan berulang tahun besok. Aku biasa mencontek. Jari - jari ini tetap menari, dan aku kembali menulis.
Sejenak rasanya aku ingin melukis. Lupa rasanya, aku tidak punya kuas. Tapi Tuhan punya, kan? Atau aku harus beli kanvas? Maaf saja, aku ternyata tidak bisa melukis. Tapi, Tuhan.
Aku telah menikah seumur hidupku dengan musik. Jari - jari ini bertunangan dengan piano, walaupun aku tidak bisa membaca not balok. Untuk apa? Aku jelas sudah menikah dengan musik, tak butuh lagi perselingkuhan dengan yang lainnya. Sudah cukup menikah.
Jariku menari, berpindah dari mesin ketik, ke piano sudut ruangan.
Sekarang aku bermusik. Aku tidak berencana. PERCUMA!

Biarkan aku sendiri.

0 comments:

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com