11/23/09

Baca Sajalah.

Bunga Istyani, Dwi Ajeng Asmarandhany, Lia Merdekawaty Hidayat dan Valentine Kardin.

Keempat teman saya ini, mereka penulis. Bisa dibilang pekerja seni. Saya sangat menikmati betul apa yang mereka tulis. Masing - masing punya karakter, tentunya. Saya tidak pernah betul - betul percaya diri untuk mem-publish tulisan - tulisan saya terhadap khalayak umum, karena selalu tersirat, ah kurang cerdas, ah kurang bertujuan, ah tidak jelas. Sampai pada saatnya, di titik paling lemah hidup saya, yang biasa disebut orang patah hati. Hahaha. Mungkin kamu boleh tertawa, bacanya saja muak. Kok patah hati bisa - bisanya bikin saya lemah sampai sebegitunya. Beberapa tulisan mereka memicu saya untuk kembali mencoba menulis (kembali). Selama ini saya hanya menulis dalam bahasa internasional, yaitu Bahasa Inggris. Bukan sok - sokan. Tapi saya kurang pede kalau harus menuangkan ini semua dalam bahasa Ibu, yang saya pikir, akan terbaca berlebihan. Bersyukur punya pematik api. Akhirnya saya bisa membagi sedikit apa yang saya rasakan. Kalau kata Bunga Istyani ; “ayo Na, keburu rokoknya gabus. Coba terus dihisap.”

Putri Shanty.

Teman perempuan yang satu ini, pelawak sepertinya. Tertawa saya kerap dibuatnya. Ia banyak menilai saya, ia tidak pernah sekalipun memihak pada saya. Semuanya terlihat salah buat saya, acap kali saya berdiskusi dengannya entah tentang cinta - cintaan atau sekedar permasalahan hidup kami yang nyaris sama di negeri orang. Bisa 3 jam sehari saya mengobrol dengannya via apapun itu.

Saya mulai menulis lagi. Pematiknya mungkin saja bukan hanya Bunga Istyani, tetapi keadaan yang membuat saya kembali percaya diri untuk mengeluarkan kembali apa yang saya rasakan dan menuangkannya dengan tulisan, tentunya di publish dong. Saya pernah menulis novel sewaktu SMA, dengan sekitaran 200-300 halaman, yah cerita anak ABG, tapi kerap bikin teman - teman saya menangis waktu membacanya. Sedih sih memang ceritanya, tapi ABG banget lah yah.

Ayah dan Ibu saya kerap bilang, saya punya bakat menulis, saya satu - satunya pekerja seni di keluarga saya. Ayah Ibu saya tidak bisa sama sekali memainkan alat musik, apapun. Kalau kakak besar saya, dia punya jiwa seni, bakatnya mendesain, adik kecil saya, suaranya bagus kalau bernyanyi. Saya? Parah kalau disuruh nyanyi. Tapi untungnya, dengan otodidak, saya bisa bermain piano dan tentu saja gitar, entah darimana ini semua didapat, saya punya darah seni, saya yakin itu. Dan mengapa tidak mencoba menulis, saya pikir. Toh saya anak sastra.

Tapi belum juga tersulut lagi keinginan untuk menuangkan ini semua, sampai (kembali lagi) saya membaca beberapa karya Bunga Istyani, Dwi Ajeng Asmarandhany, Lia Merdekawaty Hidayat dan Valentine Kardin. Terpicu keinginan terselubung yang segera ingin menuangkan apa yang selama ini kerap menari di otak saya. Dan pada akhirnya, saya coba menulis, dengan gaya yah yang mungkin terinfluensi dari beberapa pihak, contohnya penulis favorit saya Ayu Utami.

Saya banyak dinilai pihak, emosional. Pemarah. Tidak pikir panjang. Beberapa bilang, saya bahkan nyaris tidak punya perasaan. Apa - apa saya bawa secara logika. Tapi begitu masalah muncul sedikit dinamis, dan menyenggol temper saya, saya tidak banyak pikir panjang. Entah kemana perginya si logika itu.

Risma Yanti.

Dia ini sahabat saya, walaupun belum setahun lebih bersahabat. Kerap bertengkar sewaktu masih bersama - sama. Ada kalimat - kalimat yang selalu saya pegang, dari dia tentunya. “Semua orang punya porsi masalah masing - masing. Gak bisa lo ukur berat ringannya masalah orang. Yang pasti elo harus terus tabah. Dan inget, Na. Selalu pikir panjang kalau mau berbuat sesuatu.” Tidak ada yang tahu, atau tepatnya saya tidak benar - benar tahu bagimana sebenarnya hubungan kami berdua saat ini, disaat saya telah menyalah gunakan teknologi, untuk menyakiti perasaannya. Yang pasti, saya hanya ingin dia tau, kalau apapun penilaian yang telah ia tuang dan terlanjur ia bangun di benaknya, tentang saya, penilaian saya tidak akan pernah berubah, walaupun ia berubah jadi mafia kelas kakap sekalipun, ia tetap sahabat saya.

Fenny Nurul Andini Karnaen, Pita Desiana Ibrahim, Amanda Indira Ardine.

Ketiga wanita cantik ini, ah entahlah, mungkin mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana saya merindukan mereka. Mungkin hubungan kami tidak akan pernah kembali baik lagi, atau ini semua cuma perasaan saya, tapi tidak salah dong kalo saya tulis, toh hanya menuangkan apa yang selama ini menari, dibenak saya. Mungkin saya tidak tahu apa - apa tentang ini. Seandainya mereka mengerti. Ah, saya tidak akan menyalahkan siapa - siapa. Tidak juga akan menyalahkan diri saya lagi, atas apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Yang mereka harus tau, sebrengsek apapun nantinya mereka, atau apakah mereka akan menjadi penjahat nomer 1 di dunia, atau koruptor paling bejat se-tanah air. Saya tidak merubah cara pandang saya tentang mereka. Saya mungkin memang salah. Mungkin mereka gila drama Korea, China, Taiwan atau apalah. Mungkin mereka tahu betul Tau Ming Se bilang, “Buat apa ada polisi, kalau semuanya bisa pakai kata maaf.” Yang saya butuhkan mungkin bukan hanya dimaafkan, saya hanya ingin mereka tahu, saya telah pun meminta segenap maaf saya atas apa yang telah saya perbuat. Dan saya pikir, tidak ada alasan untuk melanjutkan permasalahan ini lagi. Toh saya pada akhirnya tahu, apa yang saya harus tanggung. Berteman dengan kalian cukup banyak membuka mata saya, kok. Tidak perlu khawatir, saya punya batas, saya punya pegangan. Dan yang paling penting saya rindu kalian, dan saya menyayangi kalian seperti saya menyayangi saudara sendiri. Jadi masihkan penting? Semuanya masih dipermasalahkan?

Wiena Nuariza.

Ah berjuta kali kami memaki. Menusuk. Berjuta kali pula kami menangis bersama. Saya menangis bahkan, saat saya terhubung dengannya via internet. Saya rindu dia. Walaupun sejuta kejadian yang ah, tidak akan bisa saya gambarkan hanya lewat tulisan. Ia hanya perlu mengerti. Atau memang ia selalu mengerti. Sepertinya dia selalu mengerti saya. Kalau Tuhan kasih saya mukjizat, kalo boleh putar balik waktu, saya peluk ia sering - sering. Saya akan minta dia masak buat saya.

Dea Riska, Ajeng Putriarni Syarassyalma.

Belum ada catatan hitam, belum pernah terjadi konflik apapun diantara kami. Widya Ayu Wardhani, dan Irma Yani, 2 orang ini pula, teman baik saya. Sejak kecil. Mereka tahu betul watak dan kelakuan saya. Mereka menerima, tidak pernah menuntut dan baiknya lagi. Mereka selalu memaafkan. Ah jelas, Tuhan sayang saya. Diberi sahabat sejak kecil. Yang sampai sekarang terus ada.

Semakin bertambahnya umur, semakin banyak yang terjadi dalam hidup saya. Mengkhianati, adalah isu paling panas belakangan. Ya, orang boleh bilang saya mengkhianati kepercayaan dia. Orang tentu saja berhak menilai, dan menonton drama kami selama ini. Benar, mungkin mereka bosan. Ibaratkan, mereka sedang menonton sebuah sinetron. Apa mereka terlibat? Tentu tidak. Apa mereka ikut berdialog? Saya rasa tidak. Apa mereka ikut menulis skenarionya? Kecuali ada polling sms. Apa mereka berhak menilai? Tentu saja. Tentu saja mereka berhak menilai. Apapun yang mereka lihat. Ini manusiawi, dan saya membenarkan sikap mereka. Tidak ada yang perlu disalahkan. Karena saya pun benci kalau ada yang menyalahkan saya. Bersahabat dan membina hubungan dengan seorang manusia ini selama 3 tahun, banyak membuka hati saya. Berulang saya mengkhianati kepercayaannya. Dan mungkin saja saya menyesal. Orang boleh berkomentar apapun. Tapi tolong baca ini. Ini apa yang saya lalui, apa yang saya punya, dan apa yang saya rasakan. Kalian tidak berhak menuduh. Kalian boleh berkomentar, menonton, atau peduli. Apalah. Tapi tidak menuduh dan menunjuk saya. Saya pernah dengan jelas berkomitmen dengan si sahabat saya ini untuk terus setia. Sampai saya kembali ke tanah air. Kalau pada akhirnya saya berkhianat lagi. Apa ada yang peduli dengan saya si Miska, pemeran antagonis Cinta Fitri? Tentu semuanya menoleh pada saya. Menunjuk dan menuduh. Jelaslah, saya si antagonis bejat, mereka bilang. Saya telah mengizinkan semua orang untuk menonton, dan berpendapat. Melihat juga menilai. Tapi tidak ada satupun orang yang berhak menuduh. Saya lakukan, apa yang menurut saya benar. Saya berumur 21 tahun, dan bukannya sekedar ingin punya rating tinggi di sinetron saya ini. Loh, toh saya tidak pernah minta kalian buat sekedar menonton. Saya dan si sahabat 3 tahun saya ini, setelah saya sadari. Kami memang butuh pemicu yang besar atau kelewatan besar buat menyelesaikan hubungan persahabatan yang telah kami bina selama 3 tahun. Dan pada saatnya itu datang, apa saya si Miska antagonis bejat tetap disalahkan, padahal memang keadaannya terlanjur begitu. Tidak dong. Mari kita berpikir fair. Intinya saya hanya ingin meneriakkan, bahwa saya sudah cukup dewasa, untuk memutuskan segala - galanya. Seperti kalian, wahai sahabat. Kalian pun kerap melakukan kesalahan. Pada semua pihak. Kita masing - masing punya dosa, hei, bukan saya saja. Mari berpikir rasional. Apa disaat ini masih diperlukan, perang via teknologi yang jujur saja saya anggap benar - benar kekanak-kanakkan, sementara disini saya merindukan kalian. Haruskah saya menahan, keluarnya kata - kata atau ide yang menari di benak saya, hanya untuk menjaga perasaan kalian, hei.. saya juga tidak bermaksud menyakiti hati besar yang kalian punya.

Sampai rela saya memohon, berhentilah menunjuk dan menuduh. Berhentilah berpihak. Berhentilah menonton drama saya, kalau diperlukan. Saya mengerti betul kalian sayang jelas dengan sahabat saya si 3 tahun lamanya itu. Toh mana kalian tau sih, apa yang saya rasakan. Kan saya yang punya hati. Saya yang punya jasad. Kalian benar - benar tidak perlu menunjuk dan menuduh saya lagi, tolong. Kalau saya salah dengan interpretasi saya di tulisan ini saya mohon maaf. Tapi kalian, wahai sahabat. Saya rindu kalian sejadi - jadinya, andai kalian tahu. Saya juga butuh pelukan, saya perempuan, mungkin saya brengsek, mungkin. Tapi saya tetap sahabat kalian, terkadang perempuan setelah dikatai jalang, juga butuh pelukan loh. Dan sekali lagi saya mohon jangan menunjuk dan menuduh saya lagi. Ini hidup, guys. Hidup saya dengan kalian pastinya.

3 comments:

amonk said...

cakep tulisannya na..
^^
semangat ah!

bunga istyani said...

iya na cakep na. ada nama gue lagi :D makin cakep deh heuheuehuehuehe ....

and this one, is really you .. lo banget nih na tulisan lo , lo bukan cuma udh bisa nulis, tapi lo udh punya ciri khas di tulisan lo .. dan sampe skrg aja gue masih nyari lhoo apa yg jadi ciri khas gue, gue belom ketemu .. tp baca tulisan lo, gue tau banget ini elo yg nulis ..

keep up na .. :D

Arika said...

makasi ah :p hauhauhauah

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com