11/20/09

20 November 2009

Heidelberg, 20 November 2009.

Bra hitam itu tergeletak di samping tempat tidur. Kamus English - German bertumpuk disisi meja komputer. Dia ini rapi, sebenarnya. Hanya kali ini berantakan. Hatinya pula. Gelas kopi disisi komputernya, tapi tidak seperti di Indonesia, asbak tidak tergeletak disisinya. Dia tidak merokok. Dia duduk diam, setelah menari. Kaus kaki hitam kotak - kotak, entah ini kotor atau tidak, pikirnya. Ia belum mencuci. Bukan bajunya, melainkan hatinya. Satu temannya, berpihak padanya. Kamu benar, Arika. Kamu pakai otak. Tidak benar, pikirnya. Semuanya telah berpihak, dan otak tidaklah berguna, dimana hatimu dibutuhkan. Sekarang begini, Jerman memang tidak sehebat itu, dia tidak menyesal. Tercicip sudah bir terenak sedunia. Tapi tetap Jerman tidak sehebat itu. Lalu perasaan? Apakah hilang, atau tertinggal di Indonesia?
Arika tidak menangis, tidak seperti semua teman - temannya yang hanya berteriak ingin pulang, pulang dan pulang. Dia hanya ingin sebuah pelukan, dan pembantu rumah tangga. Saat ini.
Jarak memang tidak pernah begitu indah, tapi hari ini, dia duduk diam, dan bersyukur akan ada nya jarak. Dia berdiri, merapikan koleksi sepatunya, dia tinggi, dia tidak gemuk.
Dia memang telah bertunangan dengan piano-nya. Dia menikah dengan musik sejak ia lahir. Dia ini jalang, mungkin. Bunga, temannya, telah menjadi pematik api. Liar, sudah akhirnya Arika.
Ia berencana pergi ke stasiun kota, atau mungkin malam ini ke bandara Frankfurt. Berencana.
Bandara ini meninggalkan luka gores kecil di hatinya. Tidak pernah indah, suatu kedatangan yang meninggalkan sejuta kenyamanan. Loh, dia tidak penah mengeluh. Sepertinya ia sudah tidak punya hati, atau kata - kata lagi untuk mengeluh.
Pelukan yang ia perlukan, mungkin sekarang. Setelah pengkhianatan, setelah semuanya berlalu. Hei, hari ini ia tersenyum.
Ia ingat, betapa kaki panjangnya. Oke ia memang tidak terlalu tinggi. Betapa kaki panjangnya harus keram, selama 16 jam duduk di pesawat dengan beratus kali turbulensi, jelas ia menyebrangi berapa benua. Jelas penuh turbulensi. Ia tidak akan pernah lupa betapa keram, betapa hatinya saat itu tertinggal, di suatu tempat yang hanya akan terjamah oleh satu orang.
Satu orang yang betapa, saat ini setiap hari meneriakkan "KAU JALANG!" padanya. Betapa ia ingat bagaimana ia meninggalkan segala - galanya pada satu orang itu, dan betapa ia berpikir saat ini, kenapa harus berkhianat. Tidak menyesal, sekali lagi dia tidak menyesal. Hanya kelaparan, sedikit.
Makan sereal cuma beberapa butir, hanya ganjal tenggorokan, pikirnya. Oh bikin segelas kopi lagi. Mungkin ia akan segera bercerai dengan musik, dan menikah dengan kafein.
Ia berkaca, merapikan rambutnya yang telah sangat panjang. Memakai lipstik, sedikit, dan mengenakan sweater hitamnya. Suhu diluar sekitaran 4-5 derajat. Musim gugur pertama yang ia lihat, indah. Menyiksa. November, selalu tidak pernah sempurna. Bulan depan mungkin ada salju, yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ia tidak ingin lihat salju, ia hanya ingin Tuhan membocorkan sedikit rencananya, karena ia sudah kapok berencana. Sakit rasanya seperti kerasukan Jin Tomang, kalau ingat sudah 3 tahun.

Rokok jawa memang paling enak, pikirnya. Oh betapa ia merindukan kampungnya. Ini bukan sekedar sakit rumah, hanya mata yang tertinggal disana, terlalu banyak yang belum ia lihat, sementara ia harus menggali banyak hal disini. Belum cukup pikirnya.
Putri bilang, kalau Arika harus segera keluar, atau lebih tepatnya sembuh dari segala kedataran yang ia punya. Lama - lama kau gila. Sudah, mungkin.
Ia mengenakan jaket cokelatnya, menutupnya rapat, lalu membuat kopi lagi, untuk dibawa. Sudahkah makan ia yang berteriak jalang padanya? Apakah ia baik - baik saja, pikirnya. Lunak. Sungguh lunak. Mata cokelatnya membesar, lagi. Setiap harus sadar, kalau mungkin saja ia telah kesekian kalinya berkhianat.
Ia ingin segera menikah, dan kabur dari fase yang satu ini. Tersungging sedikit senyum di bibirnya. Naifnya. Kenapa harus berencana, toh sudah direncanakan.
Mari berhenti berpikir, Arika. Mari menjalani. Mari menari.

Ia buka pintu kamarnya, lalu berjalan menyusuri dinginnya kota itu, Heidelberg saat November, dimana semuanya terlihat indah, kuning, cokelat dan jatuh.
Ia masih muda. Dan ia tahu betul itu. Ia akan terus menari.

1 comments:

Post a Comment

 

Template by BloggerCandy.com