11/26/09

:)

"Kalau saya meninggal subuh nanti, saya mau minta maaf dulu sama kamu, kalau saya sudah 2 kali berkhianat."

Pesimis

Saat ini mungkin saya sedang berada di titik kemalasan yang lumayan dahsyat yang pernah saya rasakan. Saya ini sedang dalam keadaan terjepit. Ya benar, saya benar - benar dituntut agar bisa memenuhi kualifikasi, atas standar yang saya bangun sendiri. Terserang penyakit malas memang tidak bisa terhindarkan, mungkin bagi siapa saja. Saya jelas punya passion kuat, dalam fashion, menulis, dan bermain piano. Saya juga sangat berhasrat besar dalam mendalami berbagai macam bahasa.

Di waktu ini, saya tengah berada di Jerman, Eropa. Jauh dari keluarga, jauh dari para sahabat, benar - benar menuntut saya agar tetap berada di garis lurus, dan tidak limbung. Saya benar - benar menjaga semuanya, seperti contohnya waktu dan uang, yang banyak sekali terbuang akibat perilaku kekanak - kanakan saya sewaktu saya masih di tanah air. Saya tidak bilang saya ini pribadi dewasa. Tapi terlalu banyak kasus, dari dunia perkuliahan sampai dunia pertemanan atau bahkan percinta - cintaan. Banyak kasus yang belum diketuk jelas oleh si bapak hakim. Banyak yang menggantung, entah mau dibawa kemana, atau terarak angin ke arah yang mana. Belum jelas. Begitu banyak hal yang harus saya capai, sedangkan, sekali lagi, saya berada di titik paling malas yang mungkin saya rasakan sekarang ini. Efek dominonya hebat deh. Teman - teman saya kerap mengeluhkan sakit rumah lah, kangen pacar lah. Sedangkan saya? Saya kangen dong sepatutnya, tapi saya sangat menghindari, ini yang mungkin bisa dibilang mengeluh. Kembali lagi ke efek domino dari serangan malas yang saya terima akhir - akhir ini. Mungkin pula karena harus juga menyesuaikan diri dengan iklim negara Jerman yang setiap harinya membuat saya mengumpat “FU**” sepanjang jalan, saat angin menerpa muka, salah, bukan menerpa, tepatnya menusuk sampai ke tulang - tulang. Saya memang malas bergerak, untung saya tidak bakat obesitas. Saya malah punya berat badan dibawah batas normal yang seharusnya.

Permasalahan paling krusial, dan isu yang paling menempel di benak saya sejak saya memulai hidup saya yang baru di negara Hitler ini adalah adaptasi. Terus - terusan beradaptasi. Saya beradaptasi dengan baik dalam semua hal, kecuali iklim. Saya sering sekali jatuh sakit, entah mungkin pada dasarnya saya lemah fisik, bahkan lemah batin. Tapi toh saya berhasil melewati fase ini. Menyesuaikan diri dengan lainnya.

Masalah yang menempeli terus di pundak saya ini semakin menjadi - jadi, dan anehnya disaat saya dituntut untuk benar - benar total dalam menjalani hari - hari saya sebagai mahasiswa perantauan, yang jelas saja punya tujuan jelas, kenapa bisa sampai disini. Saya dituntut pada bulan April untuk mengikuti ujian besar bahasa Jerman yang ahh, saya selalu mules kalau membayangkan ujian itu, memang belum di depan mata, tapi, waktu yang sekarang berjalan begitu cepatnya ini, saya yakin, kalau saya kecolongan sedikit saja, goal itu tidak akan pernah teraih oleh saya. Saya tidak pernah menganggap apa yang sedang saya kerjakan disini adalah beban, ini pilihan. Saya telah memilih hidup sendirian, jauh dari orang - orang yang paling saya cintai seumur hidup saya, dan harus membiasakan diri makan makanan tanpa garam (saya sebut seperti itu saking hambarnya). Bahkan bisa dibilang lidah saya bisa jadi rusak, tidak bisa lagi makan rendang super pedas atau sok - sokan makan sambal Bebek Van Java di Bandung yang benar - benar tiada tandingannya. Kangen? Jelas lah. Walaupun banyak yang bilang saya ini berpribadi terlalu dingin, cuek dan tidak cengeng seperti kebanyakan, saya toh bisa merasakan yang namanya kangen sama orang, dan masakan. Begitu banyak alasan yang mengakibatkan si penyakit ini hinggap di pundak saya, begitu kurangnya dukungan, dan begitu sedikitnya waktu untuk sekedar sharing sama teman - teman terdekat, makin membuat penyakit ini semakin menjadi - jadi. Heran. Disaat tuntutan tinggi merong - rong saya agar lebih bisa menggenjot semangat belajar, malahan terserang penyakit sialan ini.

Passion saya salah satunya adalah juga pendidikan. Walaupun bisa saya bilang jelas prestasi pendidikan saya terakhir di Unpad tidak begitu cemerlang, tetapi tetap saja, saya benar - benar berhasrat mengejar produk Tuhan yang satu ini. Saya mungkin bukan pribadi kuat sepenuhnya, tapi bisa dengan bangga saya bilang, kalau saya lumayan tahan banting. Saya bahkan hanya menangis 2 kali, ketika saya terserang penyakit kangen rumah, dan apa yang bisa saya tarik garis benang bangga dari sini adalah; pada awalnya banyak sekali pihak yang meragukan daya tahan saya untuk bisa bertahan disini, dibilang anak manja, yang diberi fasilitas serba lengkap dari orang tua, mereka pikir saya tidak akan tahan bila harus bekerja sambil sekolah. Toh pada kenyataannya saya berhasil. Dengan bantuan Tuhan tentunya. Mengeluh adalah hal yang paling sering saya lakukan, banyak hal yang saya komplainkan ke Tuhan beberapa saat yang lalu, saya cukup menyesal karenanya. Saya beragama, tapi saya mungkin punya cara lain untuk beribadah, saya mungkin tidak rajin shalat, bahkan belum lancar baca Al-Quran. Saya memiliki cara tersendiri untuk berkomunikasi dengan Tuhan saya. Mengeluh salah satunya. Saya banyak sekali mengeluh pada Tuhan. Tentang apa saja. Apapun yang mengusik perasaan saya, saya keluhkan pada Tuhan, jeleknya sih, saya mestinya tidak harus komplain.

Perasaan malas yang menyerang saya belakangan ini juga saya komplainkan pada Tuhan. Saya bertanya sih sebenarnya, bagaimana cara menghilangkan penyakit ini. Di menit lain, saya bisa dengan sukses melupakan sejenak masalah cinta - cintaan saya, perkara patah hati saya, sedih - sedihan saya beberapa saat yang lalu. Saya bisa bilang, bahwa saya memang bukan pribadi perempuan yang umum. Terlalu banyak hal yang saya urus dengan menggunakan otak instead hati. Padahal penelitian membukitikan, bahwa wanita, pada umumnya mengandalkan perasaannya untuk menyelesaikan masalah. Ini kelemahan saya, andai saya punya banyak dari kemampuan para wanita pada umumnya, saya yakin, saya akan terhindar dari banyak permasalahan (khususnya cinta - cintaan) yang terus - terusan melanda saya. Saya selalu berpikir logis, dan ini lah yang saya bilang, disaat saya ini hampir kehilangan perasaan, saya jahat pada orang lain. Apa yang menurut saya logis, apa yang otak saya presentasikan, itu yang benar. Tidak menghiraukan perasaan. Begitu pula hal ini, saya komplainkan pada Tuhan saya.

Disaat teman baik saya, ada yang mendapat keberkahan di waktu yang terlalu dini. Dia punya anak. Saya komplainkan pula itu pada Tuhan. Jelas saya ini manusia yang benar - benar tidak tahu diuntung. Sudah pemalas, tidak pernah bersyukur pula.

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam hidup saya belakangan, banyak sekali yang tidak ingin saya hiraukan. Tapi toh ternyata perasaan saya masih bisa dinyalakan. Saya masih bisa merasa sedih, terkadang kalau ingat baru patah hati. Atau terkadang pula merasa sedikit mellow kalau rindu teman - teman dan keluarga. Atau kadang pula masih bisa berpikir untuk melawan penyakit malas ini dengan melakukan banyak kegiatan positif.

Kesimpulan yang bisa saya gubah dari sini adalah, beruntung saya ini masih manusia. Beruntung, otak saya masih bisa diandalkan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, dan hati saya saat ini ternyata masih bisa dinyalakan.

Post-Break-Up

What do I love most about myself is.. I can totally play drama. I pretend so much about life. But yeah, life’s giving away chances for me to prevent those cruel things that would ever happen to my life. I see, I think. That is what exactly I do. Maybe I could’ve pretend something so much better than anyone. Maybe I am a LIAR. But that’s not the point. I am trying, this whole cruel world is worth to try. Then why not play part? See? I don’t have any idea how people can judge another, while he/she doesn’t have any rights for doing such things. It’s like, hey who the hell are you, you just can’t point the hell out of me and say those mean words!

Damn you, it’s just my life.

My life has always been about passion of writing, or playing piano. Luckily, after what I’ve been through my whole life, I still have these passions. I’m sure, that they won’t just go away, just like some friends, or just a lover. It’s going to be good, when you still have something to hold on to. Just like passion.

I have passion of learning so many languages. I’d like to speak in 4 or even 6 different languages if it’s possible. I should be possible to do that. One more gay said,”We’re still young.”

I read a tweet from my ex-lover. He said “When you say ‘Life is hard.” I would like to say, ‘Compared to what?.” This sentence is just real good, I think. What should we say? What are you comparing to, when you say something is really hard? I won’t compare anything to anyone, or anywhat. I know we would have a different portion of accepting and also giving. It’s just can’t be the same for anyone. We have differences, level, feeling, stuffs. That just won’t be the same. I don’t say that life is easy, well for me, it is not. They might be asked you for accepting something that you know you can’t, but I would love to say.. You don’t judge it also! It’s just maybe time.

I’m happy to know that I am, my self is going to be somewhere, I just know by now, well for at least I am trying to accept the fact that I am not the only one who sucks. This is going to be somewhere, I know it. Then just let the drama begins.

If someone asked me whether I’m happy or not. I would say, I broke my heart just few days ago. But I am clearly this happy. Because I already know that I am definitely going to somewhere else, that’s good. I am positive, I am optimistic. Or may be I am just too happy to find out that I don’t have any responsibility of keeping the good relationship with a lover, which is really tiring. I just love being literally single, the very right now. I’ll chase my dream away, just because I know that I am positive. And I know I can do that even better.

Let’s just be clear and fair, could be someone one complaining this much, when you have some problems such as, breaking up, betraying, fighting, and all those kind of love issue?

Why can’t you just see, there are POVERTIES all around the world. People who can’t literally eat! They don’t have enough water, they have skin diseases, they never get a chance to learn. They are far away from anything that could have make their life better. And compared to me? I don’t eat right. I am literally underweight, and what makes me really shame, is.. I just taking care of these love life issues, these break-ups. Never ending mean words. Never ending fight.

I would like to say, I could have stop this drama, right away. No, maybe it’s too big, it’s way too difficult for me also, to take care of them (poor people). I haven’t done something big before, like big charity or volunteering my self away, Maybe not yet. But my brain, it leads me there, I have already find the direction to do something much than this, or to write anything even bigger than just break up issue.

People can’t really stop complaining, I would like also to say, I wouldn’t stop complaining. But for at least, I see and I think. This is what I called, I really love myself the most, when it comes to these stuffs, maybe I can put up these issues just to pretend that I am really okay. Or not. But no, really.. I think about these all the time. And guys, I really wanna let you know that, I am so moving on after break up, and that is really not because SOMEBODY ELSE.

Oh I lost my words. :p

11/23/09

Baca Sajalah.

Bunga Istyani, Dwi Ajeng Asmarandhany, Lia Merdekawaty Hidayat dan Valentine Kardin.

Keempat teman saya ini, mereka penulis. Bisa dibilang pekerja seni. Saya sangat menikmati betul apa yang mereka tulis. Masing - masing punya karakter, tentunya. Saya tidak pernah betul - betul percaya diri untuk mem-publish tulisan - tulisan saya terhadap khalayak umum, karena selalu tersirat, ah kurang cerdas, ah kurang bertujuan, ah tidak jelas. Sampai pada saatnya, di titik paling lemah hidup saya, yang biasa disebut orang patah hati. Hahaha. Mungkin kamu boleh tertawa, bacanya saja muak. Kok patah hati bisa - bisanya bikin saya lemah sampai sebegitunya. Beberapa tulisan mereka memicu saya untuk kembali mencoba menulis (kembali). Selama ini saya hanya menulis dalam bahasa internasional, yaitu Bahasa Inggris. Bukan sok - sokan. Tapi saya kurang pede kalau harus menuangkan ini semua dalam bahasa Ibu, yang saya pikir, akan terbaca berlebihan. Bersyukur punya pematik api. Akhirnya saya bisa membagi sedikit apa yang saya rasakan. Kalau kata Bunga Istyani ; “ayo Na, keburu rokoknya gabus. Coba terus dihisap.”

Putri Shanty.

Teman perempuan yang satu ini, pelawak sepertinya. Tertawa saya kerap dibuatnya. Ia banyak menilai saya, ia tidak pernah sekalipun memihak pada saya. Semuanya terlihat salah buat saya, acap kali saya berdiskusi dengannya entah tentang cinta - cintaan atau sekedar permasalahan hidup kami yang nyaris sama di negeri orang. Bisa 3 jam sehari saya mengobrol dengannya via apapun itu.

Saya mulai menulis lagi. Pematiknya mungkin saja bukan hanya Bunga Istyani, tetapi keadaan yang membuat saya kembali percaya diri untuk mengeluarkan kembali apa yang saya rasakan dan menuangkannya dengan tulisan, tentunya di publish dong. Saya pernah menulis novel sewaktu SMA, dengan sekitaran 200-300 halaman, yah cerita anak ABG, tapi kerap bikin teman - teman saya menangis waktu membacanya. Sedih sih memang ceritanya, tapi ABG banget lah yah.

Ayah dan Ibu saya kerap bilang, saya punya bakat menulis, saya satu - satunya pekerja seni di keluarga saya. Ayah Ibu saya tidak bisa sama sekali memainkan alat musik, apapun. Kalau kakak besar saya, dia punya jiwa seni, bakatnya mendesain, adik kecil saya, suaranya bagus kalau bernyanyi. Saya? Parah kalau disuruh nyanyi. Tapi untungnya, dengan otodidak, saya bisa bermain piano dan tentu saja gitar, entah darimana ini semua didapat, saya punya darah seni, saya yakin itu. Dan mengapa tidak mencoba menulis, saya pikir. Toh saya anak sastra.

Tapi belum juga tersulut lagi keinginan untuk menuangkan ini semua, sampai (kembali lagi) saya membaca beberapa karya Bunga Istyani, Dwi Ajeng Asmarandhany, Lia Merdekawaty Hidayat dan Valentine Kardin. Terpicu keinginan terselubung yang segera ingin menuangkan apa yang selama ini kerap menari di otak saya. Dan pada akhirnya, saya coba menulis, dengan gaya yah yang mungkin terinfluensi dari beberapa pihak, contohnya penulis favorit saya Ayu Utami.

Saya banyak dinilai pihak, emosional. Pemarah. Tidak pikir panjang. Beberapa bilang, saya bahkan nyaris tidak punya perasaan. Apa - apa saya bawa secara logika. Tapi begitu masalah muncul sedikit dinamis, dan menyenggol temper saya, saya tidak banyak pikir panjang. Entah kemana perginya si logika itu.

Risma Yanti.

Dia ini sahabat saya, walaupun belum setahun lebih bersahabat. Kerap bertengkar sewaktu masih bersama - sama. Ada kalimat - kalimat yang selalu saya pegang, dari dia tentunya. “Semua orang punya porsi masalah masing - masing. Gak bisa lo ukur berat ringannya masalah orang. Yang pasti elo harus terus tabah. Dan inget, Na. Selalu pikir panjang kalau mau berbuat sesuatu.” Tidak ada yang tahu, atau tepatnya saya tidak benar - benar tahu bagimana sebenarnya hubungan kami berdua saat ini, disaat saya telah menyalah gunakan teknologi, untuk menyakiti perasaannya. Yang pasti, saya hanya ingin dia tau, kalau apapun penilaian yang telah ia tuang dan terlanjur ia bangun di benaknya, tentang saya, penilaian saya tidak akan pernah berubah, walaupun ia berubah jadi mafia kelas kakap sekalipun, ia tetap sahabat saya.

Fenny Nurul Andini Karnaen, Pita Desiana Ibrahim, Amanda Indira Ardine.

Ketiga wanita cantik ini, ah entahlah, mungkin mereka tidak akan pernah mengerti bagaimana saya merindukan mereka. Mungkin hubungan kami tidak akan pernah kembali baik lagi, atau ini semua cuma perasaan saya, tapi tidak salah dong kalo saya tulis, toh hanya menuangkan apa yang selama ini menari, dibenak saya. Mungkin saya tidak tahu apa - apa tentang ini. Seandainya mereka mengerti. Ah, saya tidak akan menyalahkan siapa - siapa. Tidak juga akan menyalahkan diri saya lagi, atas apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Yang mereka harus tau, sebrengsek apapun nantinya mereka, atau apakah mereka akan menjadi penjahat nomer 1 di dunia, atau koruptor paling bejat se-tanah air. Saya tidak merubah cara pandang saya tentang mereka. Saya mungkin memang salah. Mungkin mereka gila drama Korea, China, Taiwan atau apalah. Mungkin mereka tahu betul Tau Ming Se bilang, “Buat apa ada polisi, kalau semuanya bisa pakai kata maaf.” Yang saya butuhkan mungkin bukan hanya dimaafkan, saya hanya ingin mereka tahu, saya telah pun meminta segenap maaf saya atas apa yang telah saya perbuat. Dan saya pikir, tidak ada alasan untuk melanjutkan permasalahan ini lagi. Toh saya pada akhirnya tahu, apa yang saya harus tanggung. Berteman dengan kalian cukup banyak membuka mata saya, kok. Tidak perlu khawatir, saya punya batas, saya punya pegangan. Dan yang paling penting saya rindu kalian, dan saya menyayangi kalian seperti saya menyayangi saudara sendiri. Jadi masihkan penting? Semuanya masih dipermasalahkan?

Wiena Nuariza.

Ah berjuta kali kami memaki. Menusuk. Berjuta kali pula kami menangis bersama. Saya menangis bahkan, saat saya terhubung dengannya via internet. Saya rindu dia. Walaupun sejuta kejadian yang ah, tidak akan bisa saya gambarkan hanya lewat tulisan. Ia hanya perlu mengerti. Atau memang ia selalu mengerti. Sepertinya dia selalu mengerti saya. Kalau Tuhan kasih saya mukjizat, kalo boleh putar balik waktu, saya peluk ia sering - sering. Saya akan minta dia masak buat saya.

Dea Riska, Ajeng Putriarni Syarassyalma.

Belum ada catatan hitam, belum pernah terjadi konflik apapun diantara kami. Widya Ayu Wardhani, dan Irma Yani, 2 orang ini pula, teman baik saya. Sejak kecil. Mereka tahu betul watak dan kelakuan saya. Mereka menerima, tidak pernah menuntut dan baiknya lagi. Mereka selalu memaafkan. Ah jelas, Tuhan sayang saya. Diberi sahabat sejak kecil. Yang sampai sekarang terus ada.

Semakin bertambahnya umur, semakin banyak yang terjadi dalam hidup saya. Mengkhianati, adalah isu paling panas belakangan. Ya, orang boleh bilang saya mengkhianati kepercayaan dia. Orang tentu saja berhak menilai, dan menonton drama kami selama ini. Benar, mungkin mereka bosan. Ibaratkan, mereka sedang menonton sebuah sinetron. Apa mereka terlibat? Tentu tidak. Apa mereka ikut berdialog? Saya rasa tidak. Apa mereka ikut menulis skenarionya? Kecuali ada polling sms. Apa mereka berhak menilai? Tentu saja. Tentu saja mereka berhak menilai. Apapun yang mereka lihat. Ini manusiawi, dan saya membenarkan sikap mereka. Tidak ada yang perlu disalahkan. Karena saya pun benci kalau ada yang menyalahkan saya. Bersahabat dan membina hubungan dengan seorang manusia ini selama 3 tahun, banyak membuka hati saya. Berulang saya mengkhianati kepercayaannya. Dan mungkin saja saya menyesal. Orang boleh berkomentar apapun. Tapi tolong baca ini. Ini apa yang saya lalui, apa yang saya punya, dan apa yang saya rasakan. Kalian tidak berhak menuduh. Kalian boleh berkomentar, menonton, atau peduli. Apalah. Tapi tidak menuduh dan menunjuk saya. Saya pernah dengan jelas berkomitmen dengan si sahabat saya ini untuk terus setia. Sampai saya kembali ke tanah air. Kalau pada akhirnya saya berkhianat lagi. Apa ada yang peduli dengan saya si Miska, pemeran antagonis Cinta Fitri? Tentu semuanya menoleh pada saya. Menunjuk dan menuduh. Jelaslah, saya si antagonis bejat, mereka bilang. Saya telah mengizinkan semua orang untuk menonton, dan berpendapat. Melihat juga menilai. Tapi tidak ada satupun orang yang berhak menuduh. Saya lakukan, apa yang menurut saya benar. Saya berumur 21 tahun, dan bukannya sekedar ingin punya rating tinggi di sinetron saya ini. Loh, toh saya tidak pernah minta kalian buat sekedar menonton. Saya dan si sahabat 3 tahun saya ini, setelah saya sadari. Kami memang butuh pemicu yang besar atau kelewatan besar buat menyelesaikan hubungan persahabatan yang telah kami bina selama 3 tahun. Dan pada saatnya itu datang, apa saya si Miska antagonis bejat tetap disalahkan, padahal memang keadaannya terlanjur begitu. Tidak dong. Mari kita berpikir fair. Intinya saya hanya ingin meneriakkan, bahwa saya sudah cukup dewasa, untuk memutuskan segala - galanya. Seperti kalian, wahai sahabat. Kalian pun kerap melakukan kesalahan. Pada semua pihak. Kita masing - masing punya dosa, hei, bukan saya saja. Mari berpikir rasional. Apa disaat ini masih diperlukan, perang via teknologi yang jujur saja saya anggap benar - benar kekanak-kanakkan, sementara disini saya merindukan kalian. Haruskah saya menahan, keluarnya kata - kata atau ide yang menari di benak saya, hanya untuk menjaga perasaan kalian, hei.. saya juga tidak bermaksud menyakiti hati besar yang kalian punya.

Sampai rela saya memohon, berhentilah menunjuk dan menuduh. Berhentilah berpihak. Berhentilah menonton drama saya, kalau diperlukan. Saya mengerti betul kalian sayang jelas dengan sahabat saya si 3 tahun lamanya itu. Toh mana kalian tau sih, apa yang saya rasakan. Kan saya yang punya hati. Saya yang punya jasad. Kalian benar - benar tidak perlu menunjuk dan menuduh saya lagi, tolong. Kalau saya salah dengan interpretasi saya di tulisan ini saya mohon maaf. Tapi kalian, wahai sahabat. Saya rindu kalian sejadi - jadinya, andai kalian tahu. Saya juga butuh pelukan, saya perempuan, mungkin saya brengsek, mungkin. Tapi saya tetap sahabat kalian, terkadang perempuan setelah dikatai jalang, juga butuh pelukan loh. Dan sekali lagi saya mohon jangan menunjuk dan menuduh saya lagi. Ini hidup, guys. Hidup saya dengan kalian pastinya.

11/21/09

------

Aku poles kutek merah, menyala. Kakiku bersembunyi hangat di balik selimut tebal khas negara empat musim. Berusaha mencerna apa yang telah terjadi, sambil masih memoles kuku. Aku padamkan rokokku. Ayah, pikirku. Kangen rasanya. Ah baru saja 4 bulan. Belum lama. Sedangkan dia harus sadar betul, bahwa suatu saat akan berpisah, yang selamanya. Ibu, aku panggil redam, rindu aku. Aku akan berhenti merokok, pikirnya. Beliau dokter. Rokok ini hanya akan melukai perasaannya. Dimana disetiap doanya terlantun nyanyian indah, agar aku sehat dan tidak cepat mati. Lucu sajalah. Sambil terus memoles kuku, pikiran ini bermain sedikit liar, tapi tidak berontak. Brutal sedikit. Masih musim gugur, tidak perlu terburu - buru, masih tersedia detik, menit, jam, hari, bulan. Mari bersantai sejenak.
Mungkin saja aku kemarin hampir mati terbunuh rasa bersalahku, dalam, pekat dan sunyi. Kehilangan berat badan, sudah biasa terjadi, di saat ini, yang orang sebut patah hati. Tidak tidur, normal sekali.
Aku bangun malas dari tempat tidur, hari ini akan kencan. Makanya kupoles lagi kutek ini. Beranjak pelan, dengan langkah sedikit riang, karena akan ada kencan. Berkaca, dan merapikan sedikit poni di dahi yang telah panjang menjuntai. Cincin ini masih terlingkar di jari. Belum akan kulepas, kok. Ini kalian, teman - teman baikku. Mungkin, tidak akan kulepas. Mungkin.
Masih sambil berkaca, aku menyapukan pemulas mata, yang disetiap saat, dan akan selalu hitam adanya. Sedikit pelembab bibir, dan siap. Banyak yang bilang aku cantik. Aku tersenyum.
Pikiranku masih bermain liar, berputar - putar sedikit brutal. Memang apa salahnya berkencan?
Aku pakai sepatu hitamku, dengan hak 7 cmnya. Berputar sedikit, dan hampir sempurna. Kucari mantelku yang paling sesuai dengan warna sweater yg kupakai. Hitam.
Sedikit berkaca. Dan lalu aku diam.
Pucat pasi, ini bukan aku! Sungguh, siapakah bayangan itu? Itu bukan aku. Terduduk lemas di sudut kamar, sementara playlist sedang memainkan lagu Happy Ending - Mika, begitu menyayat. Sungguh suasana berubah, pekat kental, dan menyergap. Ini bukan aku. Aku masih terduduk lemas, ini siapa? Ini bukan aku. Tolong siapapun, beritahu, siapa ini? Ini bukan aku! Panik, lemas, ini menyergap! Sungguh tolong tusuk aku, sungguh tembak aku, sungguh bunuh aku saat ini! Siapa aku ini? Beritahu!

Sungguh buang - buang waktu. Sungguh. Betapa Tuhan, membuat semuanya jelas. Sungguh buang - buang waktu hidupku. Aku tidak tahu siapa yang berhak akan jasad ini, siapa yang berhutang akan jasad ini. Sungguh aku tidak tahu. Atau betapa ini semua hanyalah kamuflase semata. Tiba - tiba aku merasa pusing, dan hilang. Warna merah berputar - putar, seperti bianglala. Apa ini? Ah kukuku.
Aku masih tidak tahu siapa ini. Aku pusing.
Sungguh hari ini kelam, sayang aku harus batal kencan.

Kuku ini masih terpoles merah, pekat, darah, dan indah.

11/20/09

Race-perfect-poetic.

This poem is written by an African child. It was nominated for the best poem.

When I was born, I was black.
When I grew up, I was black.
When I am in the Sun, I am black.
When I am scared, I am black.
When I am sick, I am black.
And when I die, I am still black.


And you white fellows
When you were born, you were pink.
When you grew up, you were white.
When you are in the sun, you are red.
When you are cold, you are blue.
When you are scared, you are yellow.
When you are sick, you are green.
And when you die, you are gray.

And you calling me ‘colored’ ??

20 November 2009

Heidelberg, 20 November 2009.

Bra hitam itu tergeletak di samping tempat tidur. Kamus English - German bertumpuk disisi meja komputer. Dia ini rapi, sebenarnya. Hanya kali ini berantakan. Hatinya pula. Gelas kopi disisi komputernya, tapi tidak seperti di Indonesia, asbak tidak tergeletak disisinya. Dia tidak merokok. Dia duduk diam, setelah menari. Kaus kaki hitam kotak - kotak, entah ini kotor atau tidak, pikirnya. Ia belum mencuci. Bukan bajunya, melainkan hatinya. Satu temannya, berpihak padanya. Kamu benar, Arika. Kamu pakai otak. Tidak benar, pikirnya. Semuanya telah berpihak, dan otak tidaklah berguna, dimana hatimu dibutuhkan. Sekarang begini, Jerman memang tidak sehebat itu, dia tidak menyesal. Tercicip sudah bir terenak sedunia. Tapi tetap Jerman tidak sehebat itu. Lalu perasaan? Apakah hilang, atau tertinggal di Indonesia?
Arika tidak menangis, tidak seperti semua teman - temannya yang hanya berteriak ingin pulang, pulang dan pulang. Dia hanya ingin sebuah pelukan, dan pembantu rumah tangga. Saat ini.
Jarak memang tidak pernah begitu indah, tapi hari ini, dia duduk diam, dan bersyukur akan ada nya jarak. Dia berdiri, merapikan koleksi sepatunya, dia tinggi, dia tidak gemuk.
Dia memang telah bertunangan dengan piano-nya. Dia menikah dengan musik sejak ia lahir. Dia ini jalang, mungkin. Bunga, temannya, telah menjadi pematik api. Liar, sudah akhirnya Arika.
Ia berencana pergi ke stasiun kota, atau mungkin malam ini ke bandara Frankfurt. Berencana.
Bandara ini meninggalkan luka gores kecil di hatinya. Tidak pernah indah, suatu kedatangan yang meninggalkan sejuta kenyamanan. Loh, dia tidak penah mengeluh. Sepertinya ia sudah tidak punya hati, atau kata - kata lagi untuk mengeluh.
Pelukan yang ia perlukan, mungkin sekarang. Setelah pengkhianatan, setelah semuanya berlalu. Hei, hari ini ia tersenyum.
Ia ingat, betapa kaki panjangnya. Oke ia memang tidak terlalu tinggi. Betapa kaki panjangnya harus keram, selama 16 jam duduk di pesawat dengan beratus kali turbulensi, jelas ia menyebrangi berapa benua. Jelas penuh turbulensi. Ia tidak akan pernah lupa betapa keram, betapa hatinya saat itu tertinggal, di suatu tempat yang hanya akan terjamah oleh satu orang.
Satu orang yang betapa, saat ini setiap hari meneriakkan "KAU JALANG!" padanya. Betapa ia ingat bagaimana ia meninggalkan segala - galanya pada satu orang itu, dan betapa ia berpikir saat ini, kenapa harus berkhianat. Tidak menyesal, sekali lagi dia tidak menyesal. Hanya kelaparan, sedikit.
Makan sereal cuma beberapa butir, hanya ganjal tenggorokan, pikirnya. Oh bikin segelas kopi lagi. Mungkin ia akan segera bercerai dengan musik, dan menikah dengan kafein.
Ia berkaca, merapikan rambutnya yang telah sangat panjang. Memakai lipstik, sedikit, dan mengenakan sweater hitamnya. Suhu diluar sekitaran 4-5 derajat. Musim gugur pertama yang ia lihat, indah. Menyiksa. November, selalu tidak pernah sempurna. Bulan depan mungkin ada salju, yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ia tidak ingin lihat salju, ia hanya ingin Tuhan membocorkan sedikit rencananya, karena ia sudah kapok berencana. Sakit rasanya seperti kerasukan Jin Tomang, kalau ingat sudah 3 tahun.

Rokok jawa memang paling enak, pikirnya. Oh betapa ia merindukan kampungnya. Ini bukan sekedar sakit rumah, hanya mata yang tertinggal disana, terlalu banyak yang belum ia lihat, sementara ia harus menggali banyak hal disini. Belum cukup pikirnya.
Putri bilang, kalau Arika harus segera keluar, atau lebih tepatnya sembuh dari segala kedataran yang ia punya. Lama - lama kau gila. Sudah, mungkin.
Ia mengenakan jaket cokelatnya, menutupnya rapat, lalu membuat kopi lagi, untuk dibawa. Sudahkah makan ia yang berteriak jalang padanya? Apakah ia baik - baik saja, pikirnya. Lunak. Sungguh lunak. Mata cokelatnya membesar, lagi. Setiap harus sadar, kalau mungkin saja ia telah kesekian kalinya berkhianat.
Ia ingin segera menikah, dan kabur dari fase yang satu ini. Tersungging sedikit senyum di bibirnya. Naifnya. Kenapa harus berencana, toh sudah direncanakan.
Mari berhenti berpikir, Arika. Mari menjalani. Mari menari.

Ia buka pintu kamarnya, lalu berjalan menyusuri dinginnya kota itu, Heidelberg saat November, dimana semuanya terlihat indah, kuning, cokelat dan jatuh.
Ia masih muda. Dan ia tahu betul itu. Ia akan terus menari.

........................................................................

Ditulis pada tanggal 3 Juli 2009. Dikembangkan lagi pada hari ini, 20 November 2009.

Hidungku beringus. Mataku merah berair. Semua terlihat kabur, dan aku masih menghisap batang rokok ah, yang kesekian kalinya. Pemutar musik mengalun keras dari sebelah ruangan. Memakan waktu yang ada, membunuh, dan merasuki. Entah berapa gulung tisu telah aku gunakan. Mungkin hampir satu galon kopi tercerna sudah di lambungku. Sungguh kafein dan nikotin. Sungguh kafein dan nikotin. Aku tetap mengetik. Jari - jari ini menari lincah, hati ini menyanyikan sungguh, banyak sekali kalimat - kalimat indah. Ini memang sudah larut, atau sudah pagi? Aku tetap mengetik. Aku flu, bahkan demam. Tapi aku tetap mengetik, aku tahu ini akan indah, semua paradigma yang ada, bergeser ke kiri, ke kanan sesuai alurnya. Aku tahu aku berubah. Dan aku tetap mengetik, dan merokok.
Aku mabuk, untuk kesekian kalinya, aku menyanyi. Ini semua omong kosong. Oh tidak. Aku masih saja hidup. Tuhan tahu ini akan indah, jadi kenapa harus berpikir? Kenapa harus berencana, kalau semua sudah terencana?
Pertanyaan ini semakin menari - nari liar di benakku, semakin tidak terjawab. Semakin kabur, dan semakin indah. Aku ini penulis. Aku ini penari. Aku penyanyi. Aku pemabuk.
Kenapa harus berencana? Semuanya sudah tertulis jelas disana. Aku tidak akan berencana lagi. Aku akan terus melukis. Hei, aku menulis!
Jauh semakin jauh, apa yang ada, apa yang telah diciptakan telah hilang, hilang seiring berubahnya pola pikir manusia, oh apa itu manusia? Semua yang ada telah hilang. Dan kenapa baru sadar sekarang? Setidaknya setelah batang ke berapa rokok ini terbakar, setidaknya ketika paru - paruku akan segera bertransformasi menjadi batu bara. Kenapa harus sadar sekarang ketika berpuluh - puluh gelas kopi, dan segala racun yang ada di dalamnya mengalir dalam darahku? Kenapa harus mabuk? Hei, aku sadar, dan aku menulis, aku tetap menari, menyanyi, melukis.
Pertanyaan indah ini terus mengalun dalam benak.
Kenapa harus berencana lagi, sedangkan semuanya telah terencana?
Aku jatuh, dari tarian indahku. Balet? bukan. Pendet? bukan. Tango? bukan. Aku terus menari, walaupun terjatuh sudah. Semua pesan sudah terkirim, tersampaikan secara jelas. Aku berhenti menari, aku kembali menulis. Semua ini bukan omong kosong. Tuhan tahu itu, ya jelas lah.
Aku berhenti sejenak, suara serak ini melantunkan lagu. "Hei Tuhan, bocorkanlah sedikit rencana-Mu itu." Aku akan berulang tahun besok. Aku biasa mencontek. Jari - jari ini tetap menari, dan aku kembali menulis.
Sejenak rasanya aku ingin melukis. Lupa rasanya, aku tidak punya kuas. Tapi Tuhan punya, kan? Atau aku harus beli kanvas? Maaf saja, aku ternyata tidak bisa melukis. Tapi, Tuhan.
Aku telah menikah seumur hidupku dengan musik. Jari - jari ini bertunangan dengan piano, walaupun aku tidak bisa membaca not balok. Untuk apa? Aku jelas sudah menikah dengan musik, tak butuh lagi perselingkuhan dengan yang lainnya. Sudah cukup menikah.
Jariku menari, berpindah dari mesin ketik, ke piano sudut ruangan.
Sekarang aku bermusik. Aku tidak berencana. PERCUMA!

Biarkan aku sendiri.

I know WE WAN'T A BREAK UP!!


It wouldn't be like this, if i could've realized this earlier. Done, done. I'm also done with you. It's not just about the thing that you're keep calling me bitch, which is I AM NOT. The thing is, I don't love you anymore, and I just didn't realized this. And if you could rewind. You're not in love with me anymore, I know. And this is really good, i find this is effing funny. How God can play us like this. This one thing I wouldn't complain. I know that this is going to be happen, even sooner or later.
I loved you so much, I can go nuts with anything related to you. We're just don't belong to each other. So feel free to be free, and stop calling me bitch, BECAUSE I AM NOT!!
It's not about the cheap third party or so ever. It's just us. Can't you just realized? We're not in love anymore, and I clearly not sad, when somebody informed me about you, and the other party. It's good to know that, hey you. I almost killed by this guiltiness and all. I almost killed myself because of you. I was broke. My weight is 37. And when somebody inform this, I was like, smiled all over my face. I feel free to be free. And you, HAVE TO STOP CALLING ME BITCH RIGHT NOW!!
I don't love you. So do you.
What I really sorry about is, WHY TAKES TIME FOR US TO REALIZED ALL OF THIS. DO WE REALLY NEED TO HURT EACH OTHER FIRST. WE WAN'T A BREAK UP!!
I know you do wan't a break up!! I know it!!
I'm not sad.
I gotta move on from you.
And just so you know. You are the best part, the best thing that ever happened in my life.
You are the best, I know I won't get anyone better than you.
But this is a life. We should go on.
I love you too much, and that was killing me. And I am know free to be free.
You know we're just not in love, and we wan't a break up.
I'm sorry I hurt you. But you've hurt me too.

11/19/09

:/

You never read my writing. Because if yeah. You won't call me bitch.

11/15/09

11/14/09

Germany is not that GRREEAT

kata Lia Merdeka : "Selamat datang di Jerman, dunia yang sangat RASIONAL."
kata gw : "Gw malah takut kehilangan hati gw."

i crave for a free hug tonight.


nicotine in veins by Arika Indra

I would like to change my name. I'm loud. I'm obnoxious. I'm sarcastic. I have a bad temper. For the most part, I don't like most people. I'm easy to get along with. I like to fight. I have more enemies than friends. I drink coffee A LOT. I clean my room daily. My room always clean, white and tidy.
I'm clearly taller than 5'2. I wear makeup. I wear contacts. I currently have braces/retainer. I have/want piercings that aren't in my ears. My ears are pierced. and I wanna have a tattoo. I listen to jazz, I download music, and buy CD's.

arika.

  • arika.

mono-tone

cursing through anything/ underweight/ someone say I look great/ always get what I want/ cruelly beautiful/ demanding something really big on june/ miss my mom/ developing feeling for things/ abroad/ and heaven/ sarcastic/ whining all over my problem/ craving for food and gain weight/ stop smoking/ implanted.

People embrace at London’s St. Pancras railway station, Thursday Nov. 12, 2009, in an attempt to set a Guinness world record for the largest group hug. The record was set by 112 people hugging for one minute. The event was part of an estimated 200,000 people around the world will come together and attempt a wide range of records in celebration of the fifth annual Guinness World Records Day. The global event will attract record breakers from every continent who strive to make their mark in the famous book.

"LET'S DO THIS TONIGHT!!"

I CRAVE FOR A HUG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! :)



11/12/09

quote of the fucking day.


I'm not quitting.

I'm breaking (in).


Take Me To Hospital, I still Feel Funny.

If you could just picture my self like this. I bet you won't even believe any of what I've said to you today. If only I could hug you just for a minute. I'll get even so much better. No. I'll get the best feeling I have ever had.
I'm changing, yes I know I am. If you could only understand.

If only you could've been understand. What I've been through.
If only you could've been here for me. All I want is now. To hug you.

Is to hug you.

This minutes is the hardest time I ever been through.
I miss you more than you could ever think.

I feel funny. Is this gonna be forever?
I'm not even under-marijuana-effect, or defekt in German. LOL.
This song playlist plays obnoxiously. I still feel funny.

How am I gonna handle this?
Can I just stop pretending?
I'm not even near to be called that strong?

Could I just running away from this?
I know early, I may fall apart before I wake.
Therefore, should I stop struggling?

Why do I complain so (too) much?
Why people did so?
Why are we here exactly?

Can you show me where the exit is?
I wanna stop running before I wake up. This one is exhausting. Even coffees can't help.

WHERE ARE YOU?

WHERE CAN I FIND YOU?

WHEN CAN I HUG YOU?

I feel funny and also romantic. I'm laughing my ass off.
Can I ever feel better? I have experienced the best feeling ever, when I'm with you.
So there is no way, right?

I don't have any ways, this one is insanely funny.

I want you, I crave you, I need you, You mean happiness to me.
It's all no bullshit.

But i still feel a bit funny.

Take me to the hospital. Cos I still feel funny. I can't help it.

Even cups of coffee can't help.







 

Template by BloggerCandy.com